Bumbu Rujak Simpang Jodoh yang Nikmat dan Melegenda

MEDAN. Bumbu rujak yang diracik dengan pas akan menghasilkan seporsi rujak yang nikmat. Hal inilah yang selalu dipegang oleh para penjual rujak legendaris di daerah Percut Sei Tuan, Tembung, Deli Serdang, “Rujak Simpang Jodoh”.

deretan penjual rujak yang siap sajikan rujak dengan bumbu rujak mantap

Deretan penjual rujak di Simpang Jodoh, Tembung

Simpang Jodoh sendiri adalah kawasan persimpangan tempat bertemunya Jalan Besar Tembung dengan Jalan Pasar 7. Dinamakan demikian karena konon katanya kawasan ini dahulunya (seperti masih sampai sekarang) adalah tempat muda-mudi bertemu dan berharap menemukan jodohnya.

Ika, salah satu penjual rujak menyampaikan kalau para penjual rujak di sini sudah mulai berjualan sekitar tahun 1950.

“Dulu di sini gak ada lampu jalan, Bang, jadi kalau malam-malam kami jualan pakai lampu petromak,” katanya.

Ika melanjutkan, seperti dirinya, para penjual di sini sekarang kebanyakan adalah generasi kedua dan ketiga.

“Awal-awalnya yang jualan di sini rata-rata keluarga, masih ada hubungan famili, kalau sekarang udah enggak,” terangnya.

Penjual rujak simpang jodoh

Anak dari Ibu Wati, penjual “Rujak Uleg Bu Wati”, salah satu penjual di Simpang Jodoh, Tembung

Hal yang sama diutarakan Aditya Gumay, dari taukotembung. Menurutnya, rujak simpang jodoh adalah warisan sejarah yang harus didukung keberadaannya.

“Makanya kalau saya ada tamu dari luar kota selalu saya ajak kemari. Ini agar pembeli rujak di sini tetap ada sehingga bagian dari sejarah daerah Tembung ini bisa terus bertahan,” tuturnya.

Aditya melanjutkan, dulunya para penjual di sini mulai berjualan ketika sore datang. Namun sekarang, sudah ada penjual rujak yang sudah menggelar dagangannya sejak pagi hari sekitar pukul sembilan.

“Dari menjual rujak di sini saja sudah banyak ibu-ibu yang mampu hidup layak dan menyekolahkan anak-anaknya, bahkan ada juga yang berjualan rujak di sini untuk membiayai sendiri uang kuliahnya,” imbuhnya.

Soal citarasa rujaknya, Aditya memastikan kalau semua penjual rujak di sini sudah menetapkan standar yang sama. Alhasil, citarasa satu rujak dengan rujak yang lainnya tidaklah begitu berbeda.

bumbu rujak simpang jodoh yang diuleg

Sementara itu, seperti yang kami ungkapkan di atas, salah satu faktor yang membuat penjual rujak di sini tetap bertahan adalah bumbu rujak yang digunakan cukup nikmat.

“Semua rujak di sini diuleg pakai pisang batu sehingga rasanya khas,” kata Aditya.

Selain itu juga, bumbu baru diuleg langsung di atas telenan batu, dan baru dikerjakan ketika ada pembeli datang. Hal ini tentu saja membuat kesegaran bumbu rujak yang tetap terjaga.

Meski terletak di pinggi jalan, di mana debu-debu banyak beterbangan, buah-buahan yang dipakai dalam rujak selalu dicuci bersih dulu sebelum dipotong-potong dan dicampur ke dalam bumbu rujak.

potongan buah-buahan dengan bumbu rujak

Untuk harga, seporsi rujak di sini bisa dinikmati seharga Rp 13.000. Jadi, tertarik untuk mencari jodoh, eh maksudnya mencicipi rujak di sini ?

Peta lokasi :