Dakwah Jadi Bagian Utama Bisnis: Sutardi, Laundry Syar’i

MEDAN. Laundry Syar’i namanya. Dakwah sekaligus bisnis adalah dua hal yang jadi tujuan si empunya bisnis, Sutardi, saat mendirikannya.

Ultimate goal kita itu adalah masuk surga, jadi mari usahakan apa pun yang kita jalanin jadi bagian usaha kita agar bisa masuk surga, termasuk dalam berbisnis. Intinya ingin dakwah dari bisnis ini,” kata Sutardi.

Sebelum berbisnis laundry syar’i, pria 35 tahun ini sebelumnya berbisnis laundry konvensional. Usaha laundry-nya tersebut ia rintis sejak tahun 2008 hingga 2015.

Laundry Syar’i ini baru sekitar setahun, dan pertama kali di Medan. Sebelum usaha laundry saya juga sempat berbisnis kuliner, jualan soto dan sarapan pagi, tapi cuma bertahan setengah tahun” jelasnya.

sutandi usaha dan dakwah laundry syar'i

Konsep Thaharah

Selanjutnya, Sutardi melihat ada ceruk di segmen pasar laundry yang belum digarap oleh pebisnis sejenis. Di samping alasan utamanya seperti yang sudah kami paparkan sebelumnya.

Sutardi melanjutkan, bisnis laundry miliknya yang sekarang adalah bisnis jasa berkonsep syariah dengan metode pencucian dengan konsep thaharah. Metode ini menggunakan air mengalir yang syarat kapasitas airnya minimal 200 liter.

Value-nya di titik suci, menggunakan air mengalir. Kalau laundry lain mungkin sama bersih, wangi, rapi, tapi untuk jaminan suci itu mereka belum bisa ngasih. Syarat bersih dari najis itu kan hilang rasa, bau, dan juga warna,” paparnya.

Ia melanjutkan, saat mempratekkan konsep bisnisnya yang baru, awalnya memang penuh tantangan. Para konsumennya sebelumnya tidak begitu memperdulikan konsep syar’i yang diusungnya. Namun berkat kegigihan dan keuletan untuk terus mengedukasi konsumennya, lama kelamaan konsumennya pun paham.

“Rata-rata pelanggan laundy itu ingin rapi, bersih, selesai, dan tepat waktu. Setelah kami edukasi untuk memahami kalau air untuk mencuci baju harus betul-betul suci, akhirnya banyak yang mengerti. Konsekuensinya jadi lebih tenang beribadah, kan kalau pakaian tidak suci dari najis dan hadas, ibadah bisa tidak diterima Allah SWT. Di situ letak dakwah kami,” ungkapnya panjang lebar.

DAKWAH LAUNDRY SYARI

Sunnatullah dan Nasrullah

Dalam hal berbisnis atau berwirausaha, Sutardi percaya akan namanya sunnatullah dan nasrullah. Ia menjelaskan, sunnatullah itu artinya lebih ke hukum sebab akibat.

Sunnatullah itu maksudnya dalam berbisnis itu segalanya terukur, kalau berusaha pasti ada hasil. Kalau mau sukses maka harus ada yang dibuat sungguh,” jelasnya.

Sunnatullah menurutnya juga termasuk usaha untuk menjauhi riba dan sejenisnya. Riba harus dihindari dan dijauhi. Riba itu awalnya memudahkan tapi tidak bisa mengukur bisnis ke depan.

“Kalau memang butuh pinjaman usahakan cari yang betul-betul syariah, jangan lupa investasi dengan cara belajar dari orang-orang yang sukses. Riba itu membutakan, seolah-olah usaha kita udah sukses, udah besar, padahal enggak,” tegasnya.

Sutardi menambahkan, jika seseorang telah menerapkan sunnatullah maka selanjutnya insya Allah ia akan mendapat nasrullah (pertolongan dari Allah SWT).

“Nasrullah bisa datang kalau usaha kita betul-betul syariah, pertolongan Allah pasti datang, jangan lupa untuk menjauhi hal-hal yang mudharat (tidak berguna, merusak),” tutup pria yang omset usahanya per bulan sekitar Rp 30 juta ini.

Peta Lokasi Laundry Syar’i :