Duo Mie Rebus di Kampung Lalang yang (rasanya) Nendang

Mie Rebus Kampung Lalang depan toko cd

MEDAN. Berlokasi di salah satu persimpangan tersibuk di Medan, di tengah hilir mudik kendaraan yang lalu lalang, terdapat dua buah warung penjual mie rebus yang menawarkan sensasi rasa istimewa yang memanjakan lidah. Kedua warung ini terletak di Jalan Gatot Subroto di sekitaran simpang Kampung Lalang, Medan. Uniknya, penjual kedua warung mie rebus ini masih memiliki hubungan saudara.

Jika kita berkendaraan dari arah Tapian Daya, warung pertama terletak pinggir jalan, di depan penjual cd-dvd dan sebuah pusat kebugaran. Warung ini cukup sederhana, terdiri atas sebuah gerobak dan tiga pasang meja dan bangku kayu panjang. Penjualnya adalah seorang ibu tua keturunan India.

Meski tempatnya sederhana, rasa yang ditawarkan seporsi mie rebus disini sungguh mewah. Yang terasa cukup istimewa adalah kuah kaldunya yang cukup kental dan gurih. Taburan kerupuk garing dari campuran tepung jagung juga semakin memperkaya tekstur dan rasa dari mie rebus yang seporsinya dihargai Rp 9.000 ini. Telur rebus, tauge, hingga taburan daun sop juga ikut menyempurnakan citarasa mie rebus yang mulai dijual pukul 15.00 WIB ini. 

“Udah lama kali lha saya jualan mie ini,” kata si ibu penjual mie rebus, ketika kami tanya kapan ia mulai berjualan.

Mie Rebus Simpang Kampung Lalang, dekat Persimpangan Kelambir V

Warung mie rebus kedua terletak di dekat lampu merah persimpangan Jalan Kelambir V. Jika kita berkendaraan dari arah Binjai, letaknya di sebelah kiri jalan, namun jika dari arah Tapian Daya letaknya di sebelah kanan, dan harus menyeberangi Jalan Gatot Subroto yang sangat ramai.

Konsep warungnya juga tidak jauh berbeda dengan warung mie rebus pertama, sebuah gerobak (bentuknya sedikit lebih bagus daripda warung pertama), dan beberapa meja dan kursi plastik. Dari citarasa, mie rebus disini menawarkan kuah yang sedikit lebih kental, namun citarasa dan komposisinya tidak jauh berbeda dengan warung mie rebus pertama. Ternyata setelah kami telusuri, penjual mie rebus yang buka menjelang maghrib ini adalah keponakan dari si ibu penjual mie rebus di depan toko cd. 

“Pantaslah, rasanya tidak jauh berbeda,” pikir kami dalam hati.

“Kami udah jualan lebih 40 tahun,” kata putri penjual mie rebus ketika ia meletakkan pesanan mie rebus ke atas meja kami sementara ayah dan ibunya sibuk melayani para pembeli.

Satu hal yang menjadi perhatian adalah lokasi berjualan kedua warung ini. Karena letaknya yang persis di pinggir jalan, debu-debu yang berasal dari kendaraan (mulai dari truk dengan container besar hingga sepeda motor) bukan tidak mungkin ikut masuk ke seporsi mie rebus yang sedang makan. Saran kami, pilihlah meja yang letaknya paling jauh dari pinggir jalan, atau mungkin pesan untuk disantap di rumah. (mhm/01)