Fotografer Jurnalistik Irsan Mulyadi: Ingin Selalu Jadi Yang Pertama Mengabarkan Berita Melalui Visual

MEDAN. Irsan Mulyadi adalah seorang fotografer jurnalistik muda kebanggaan kota Medan. Karya-karya fotonya sudah banyak diganjar penghargaan bertaraf lokal hingga nasional. Di tahun 2013, laki-laki kelahiran 1984 ini dianugerahi “Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI). Tahun berikutnya, 2014, ia menyabet “Foto Terbaik” Antara Foto yang menyisihkan lebih dari 50.000 foto lainnya.

Irsan Mulyadi Fotografer Jurnalistik

Kecintaan Irsan akan dunia jurnalistik dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Saat tahun 1998, ia menjadi saksi dari kerusuhan pasca jatuhnya rezim Soeharto.

“Aku waktu itu masih kelas dua SMP dan aku melihat kerusuhan tahun 1998 itu tepat di mataku. Nah di situlah aku melihat seorang wartawan. Aku langsung berfikir kalau wartawan adalah profesi yang sangat bermanfaat bagi orang lain dan penuh tantangan. Aku jadi tertarik,” paparnya

Irsan sendiri berasal dari keluarga yang penuh keterbatasan dalam hal ekonomi. Ibunya adalah seorang buruh cuci, sedangkan ayahnya seorang tukang sepatu.

“Dulu kami tinggal di rumah sewa, di gubuk. Kalau hari hujan, kami harus tidur miring ke kiri atau kanan agar tidak kena bocoran tetesan air hujan,” kenangnya.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Irsan kecil pun pernah menjajakan salabulek (kue khas Minang) di sekitar lingkungan rumahnya.

“Aku dulu sering nunggak bayar uang sekolah. Kondisi ekonomi keluarga inilah yang bikin aku berjanji ke diri sendiri agar tidak menyusahkan keluarga dan berusaha memperbaiki ekonomi keluarga,” tuturnya.

Tamat dari SMA Negeri 6 Medan, anak keempat dari lima bersaudara ini berhasil menjadi mahasiswa di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), dan lulus pada tahun 2008.

“Dari semua anak mamakku, cuma aku yang tamat kuliah. Sejak kuliah semester empat aku udah mandiri, kerja sana-sini, ikut penelitian, dan udah bisa bantu orang tua dikit-dikit,” sambungnya.

Berbekal Kamera Pocket

Tamat dari FISIP USU, suami dari Tya Yoniva Kusmareza ini pun berusaha mencari pekerjaan.

“Berangkat dari kondisi kecil yang serba terbatas, pekerjaanku harus membantu orang lain,” lanjutnya.

Menjadi jurnalis adalah pilihan Irsan. Ia pun sempat bekerja di Harian Sumut Pos, sebelum pindah ke Kantor Berita Antara.

Perjalanannya menjadi fotografer jurnalistik terbilang cukup historis. Pada 2 Maret 2009, ia mengabadikan aksi demonstrasi kasus Provinsi Tapanuli yang menewaskan ketua DPRD almarhum H. Abdul Azis Angkat. Fotonya merekam almarhum H. Abdul Azis Angkat ketika hendak dievakuasi dari “serbuan” para demonstran.

“Waktu itu statusku di Antara masih wartawan tulis, tapi kemana-mana bawa kamera pocket. Jadi foto itu aku rekam pakai kamera pocket. Kantor melihat fotoku itu. Foto itu dipakai hampir di seluruh media di Indonesia. Dari situ aku jadi tertarik ke fotografi jurnalistik, aku melihat kalau fotografi jurnalistik berada di barisan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa,” paparnya.

Enam bulan pasca peristiwa tersebut, Irsan pun akhirnya memutuskan untuk fokus menjadi fotografer jurnalistik. Ilmu jurnalistik sendiri dipelajari Irsan dari pelatihan yang diadakan oleh kantor tempat ia bekerja. Sedangkan ilmu fotografi diperolehnya melalui otodidak dan rajin bertanya kepada semua orang.

Irsan melanjutkan, ketika sudah menjadi fotografer jurnalistik, teman-teman seprofesinya rata-rata menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflection) sebagai “senjata utama”, sedangkan ia masih menenteng kamera pocket.

“Terkadang jadi minder sendiri, tapi banyak yang dukung terutama para senior. Mereka bilang gini, kami seharusnya yang malu, kami memakai DSLR tapi fotomu yang diambil pakai kamera pocket tidak jauh beda dengan foto-foto kami. Sebenarnya foto yang bagus dalam fotografi jurnalistik bukan tergantung kamera yang digunakan tapi dari insting fotografernya, kamera hanyalah alat,” kenangnya.

“Soal ilmu fotografi aku tanya kemana-mana, seperti apa memotret di siang hari, bagaimana memotret saat gelap, saat cahaya yang tidak terlalu cukup; aku banyak belajar dari kawan. Aku juga nanya adik junior di kampus yang paham fotografi, gak malu, ngapain malu, termasuk Risky Cahyadi walau dia junior di kampus, tapi harus diakui mereka yang lebih dulu kenal dunia fotografi,” sambungnya.

“Aku percaya kalau setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah,” tuturnya.

Irsan menggarisbawahi, kalau kamera hanyalah alat untuk mempermudah fotografer. Oleh karenanya, ia tidak terlalu memaksakan dirinya untuk meng-upgrade spesifikasi kameranya.

“Kalo punya kamera dengan lensa kita 18-55 mm sebenarnya udah cukup. Tapi memang gak ada salahnya juga di-upgrade, contohnya lensa tele yang membantu ketika ingin memotret dalam jarak tertentu yang tidak bisa ditempuh, seperti pertandingan sepakbola atau kerusuhan,” ujarnya.

Suka Tantangan

Pribadi yang mengidolakan Oscar Motuloh ini adalah seorang yang menyukai tantangan. Hal ini dibuktikannya dengan beberapa foto-fotonya yang inspiratif yang didapat melalui perjuangan bersimbah keringat.

“Aku selalu ingin jadi yang pertama dan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa secara visual,” katanya.

Irsan Mulyadi Fotografer Jurnalistik

Irsan Mulyadi saat bekerja menjadi fotografer jurnalistik di lapangan

Irsan kemudian menceritakan ia pernah berada tidak jauh dari awan panas erupsi Gunung Sinabung yang menghasilkan debu pasir setinggi betis orang dewasa di Desa Suka Meriah, kaki Gunung Sinabung.

Ayah dari Dimas Arya Mulyadi ini juga pernah “mengikuti” pihak terkait dalam mencari gerombolon perampok Bank CIMB Niaga. Alhasil, baku tembak antara perampok dengan pihak polisi dan TNI terjadi langsung di depan matanya.

Fotonya yang menjadi juara dalam “Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI) tahun 2013 juga diraih dengan penuh perjuangan. Penggemar sate padang ini bercerita, kalau foto tersebut berlokasi di Langkat. Ia sebelumnya mendapat informasi dari tim penyelamat orang utan, kalau mereka akan melakukan proses evakuasi orang utan.

“Waktu itu bulan puasa. Aku masuk hutan jam 11 pagi, ketemunya baru jam 6 sore, dan kami hampir saja kecewa lalu bergegas pulang, karena orang utan yang gak kunjung nampak. Waktu itu aku berdoa kepada Allah, ya Allah hambamu puasa dan hambamu ini bekerja, masa’ jauh-jauh dari Medan mau ngefoto evakuasi orang utan tapi orang utannya gak nampak. Alhamdulillah, 10 menit kemudian orang utannya ada di atas kepala kami, dibius, terjatuh, dan aku potret menjelang adzan maghrib. Di pelipisnya ada peluru yang diduga berasal dari tembakan warga karena dianggap hama oleh penduduk yang tinggal di sekitar kebun kelapa sawit,” jelasnya.

Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI) tahun 2013 karya Irsan Mulyadi

Irsan berprinsip, manusia yang paling baik adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Oleh karena itu ia selalu siap sedia berada di garda terdepan ketika terjadi peristiwa-peristiwa penggusuruan.

“Aku berasal dari keluarga yang terbatas ekonominya. Jadi aku sangat sedih melihat orang lain digusur dari rumahnya, dari tempat tinggalnya. Melalui foto-fotoku, aku memberitahukan ke orang lain tentang penderitaaan mereka. Aku ingin bilang kalo digusur bukanlah solusi,” tegasnya.

Pentingnya Buku Foto

Pada tahun 2014, Irsan membuat buku fotonya sendiri. Buku foto tersebut diberi nama “Sinabung Bangun Dari Tidur Panjang”. Buku foto ini terdiri atas 86 halaman, dicetak secara independen tanpa penerbit.

Menurutnya buku foto penting bagi seorang fotografer karena buku foto itu abadi.

Buku foto hasil cetakan independen Irsan Mulyadi

“Nanti ketika anakku berumur 17 tahun, buku foto ini akan aku hadiahkan ke dia,” kata Irsan berencana.

“Meski sekarang era digital tapi percayalah kalau umur buku akan lebih tua dari umur kita. Buku foto ini aku cetak pakai duit sendiri, yaaah cari donatur juga sih,” lanjutnya.

Setiap Orang Adalah Sumber Informasi

Saat ini dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang fotografer jurnalistik, Irsan cukup terbantu dengan perkembangan teknologi internet seperti sosial media hingga aplikasi chatting smartphone. Dengan kualitas kamera di ponsel sekarang, setiap orang bisa mengabarkan berita foto apa pun dari ponselnya.

“Aku dan teman-teman seprofesi hari ini terbantu grup whatsapp, grup BBM, sosial media yang sering warga mengabarkan sebuah peristiwa. Jadi gitu dengar ada sesuatu aku langsung ke lapangan. Jadi buat kami jurnalis, semua orang adalah teman, semua orang bisa jadi sumber berita yang menginformasikan sebuah peristiwa, apa pun profesinya,” paparnya.

Foto terbaik Antara Foto tahun 2016 karya Irsan Mulyadi

Oleh karena itu, Irsan menegaskan, seorang fotografer jurnalistik harus menjaga sikap dan etikanya. Jangan pernah melakukan kebohongan terhadap sebuah karya foto. Dalam fotografii jurnalistik, Irsan menjelaskan, haram hukumnya menghilangkan atau menambahkan suatu elemen di dalam foto. Batasannya hanya di pengaturan kontras, saturasi, dan cropping. Jika ini dilakukan si fotografer maka ia sudah membunuh karirnya sendiri.

“Contohnya fotografer Reuters Adnan Hajj yang melakukan kebohongan dengan mengkloning asap kebakaran dalam fotonya tentang konflik Lebanon dengan software edit foto digital. Reuters pun langsung memecat dia,” jelas Irsan.

“Satu lagi, jangan pernah mengklaim foto orang lain adalah foto kita,” tegasnya.

Saran dan Cita-Cita

Meski telah “mapan” menjadi fotografer jurnalistik, Irsan masih ingin belajar dan menjadi seorang dosen. Selain itu ia juga bercita-cita ingin menjadikan Medan menjadi kota wisata dan seni.

“Hari ini kita masih berkelompok dalam membangun kesenian, contohnya teman-teman fotografer, blogger, belum pernah ketemu. Aku pengen kita semuanya ketemu, duduk, dan komitmen mengembangkan kota Medan. Kalo mengkritisi gak apa-apa. Nah ini kita lanjutkan secara kontinyu, terus-terusan, masing-masing dengan konsentrasinya, blogger dengan tulisan-tulisannya, fotografer dengan foto-fotonya, dan sebagainya. Ini cita-cita bersama,” tambahnya.

fotografer jurnalistik

Foto Terbaik “Antara Foto” Tahun 2014 karya Irsan Mulyadi

Bagi mereka yang ingin menjadi seorang fotografer jurnalistik, Irsan menyarankan agar jangan ragu untuk mengangkat kamera dan memotret, jangan takut untk mengabarkan.

“Misalnya jalanan macet kayak di Jalan Pemuda, share aja, itu kan bermanfaat bagi orang lain, bisa di-share kayak di facebook, twitter, path, nah ini kan berguna bagi yang mau ke arah ke sana. Yang kedua jangan mudah dan cepat bangga berpuas diri dengan pujian ketika foto kita bagus. Fotografi jurnalistik yang bagus adalah ketika pesannya sampai ke orang lain, nah ketika foto kita sampai ke orang lain dan mendapatkan like misalnya di facebook, jangan terlalu cepat puas, karena fungsinya untuk menyampaikan suatu peristiwa pada khalayak ramai melalui pesan visual. Hakikat manusia pada dasarnya kan berguna bagi orang lain,” tutupnya.

 

BIODATA
Nama : Irsan Mulyadi
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 5 Desember 1984
Pendidikan Terakhir : S1 Departemen Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU)
Alamat : Kampung Lalang, Medan
Sosial Media : @irsanmulyadi
Agama : Islam
Email : irsanmulyadiphoto@gmail.com
No. Telepon : 0812 6470 2431