Guru SEO, Pendiri Cerita Medan, Praktisi Internet Marketing: Wahyu Blahe

MEDAN. Wahyu Hidayat, atau yang lebih akrab dipanggil Wahyu Blahe adalah anak muda Medan sumber inspirasi. Ia adalah guru SEO (search engine optimizer), praktisi internet marketing, public speaker, dan pendiri ceritamedan.com, portal komunitas nomor satu di Medan.

Berawal dari Twitter

Awalnya, Wahyu berkeinginan untuk menduniakan segala cerita tentang Medan, dengan mengangkat nilai positif akan gambaran Medan sebagai kota yang berbudaya.

SEO

“Jadi inginnya Medan ini dikenal bukan karena kerasnya saja,” tuturnya.

Untuk merealisasikan keingingannya tersebut, Wahyu menggunakan sosial media twitter sebagai wadahnya berekspresi. Tepat pada 31 Agustus 2011, ia membuat akun twitter @ceritamedan dan mulai liputan berkeliling Medan.

“Waktu itu aku sambil kerja sebagai sales representative di Yellow Pages, jadi memang kerjanya keliling-keliling. Ya udah aku sambil liputan, jepret sana-sini, diposting di twitter bilang kalo kayak ginilah Medan, biar tau klen,” tutur sarjana pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini.

Wahyu melanjutkan, ide menggunakan twitter ini juga didapat dari pengalamannya bekerja di Waspada Online.

Waspada Online waktu itu besarnya dari twitter, meningkat 400 % pengunjungnya dari twitter,” lanjutnya.

Seiring dengan semakin seringnya Wahyu ngetwit, makin banyak yang meminta ia untuk mengeksplorasi Medan lebih detil.

“Kalo di twitter kan metodenya cuma kultwit, jadi agak susah,” tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.

Akhirnya tepat setahun kemudian, 31 Agustus 2012, ia membuat website ceritamedan.com. Menurutnya twitter adalah kendaraan, sedangkan website adalah rumah dari Cerita Medan. Pembuatan website ceritamedan.com tersebut dilakukan Wahyu setelah ia mendapatkan iklan pertamanya di twitter, Juni 2012.

SEO

Wahyu (kiri) bersama Pemimpin Redaksi Femina dan Waspada Online. Kredit : Instagram.com/wahyublahe

“Dapat iklan pertama, nilainya satu juta Rupiah dari tupperware untuk 20 kali posting, baru dari situ beli custom domain ceritamedan.com, desainnya masih pakai bawaan blogspot,” sambungnya.

Selanjutnya, untuk mengisi konten di website ceritamedan.com, ia menerapkan konsep rewrite (tulis ulang) artikel atau berita. Saat itu, Wahyu langsung melihat peluang di segmen komunitas Medan. Pemelihara janggut ini pun mendekati komunitas-komunitas di Medan dan menawarkan peliputan tentang acara-cara mereka untuk kemudian diposting di ceritamedan.com. Ketika itu, ia dibantu oleh dua orang rekannya, Nasution Rizky dan satu lagi di bagian keuangan untuk mencatat uang masuk dan keluar. Wahyu pun memulai menggunakan jasa penulis lepas untuk mengisi konten-konten di websitenya.

Ceritamedan menjadi besar ketika banyak menjadi media partner dari acara-acara charity dan kemudian mempostingnya di twitter. Wahyu menerangkan, acara charity pasti banyak diretweet oleh semua kalangan, berbeda dengan acara bersegmentasi khusus seperti konser dangdut yang tidak akan mungkin diretweet penggemar musik rock, dan sebaliknya.

“Akhirnya aku mengundurkan diri dari Yellow Pages, karena aku merasa korupsi waktu di sana, dan ketika itu aku melihat prospek di ceritamedan sudah menjanjikan,” sambungnya.

Medan Buzzer

Pada 2013, Wahyu mendirikan Medan Buzzer yang beranggotakan 32 akun twitter kota Medan. Ia berkeinginan berbagi rezeki dengan kawan-kawan lainnya, karena masa itu, ceritamedan sudah dikenal oleh agensi-agensi periklanan di Jakarta, dan ketika mereka mencari digital influencer rujukannya adalah Wahyu dan ceritamedan.

“Medan buzzer sempat booming, gak nyangka juga. Kami berkali-kali sempat membuat trending topic di twitter dan ini tentu saja dilirik oleh agensi-agensi iklan nasional,” tuturnya.

Sayangnya, karena mulai terjadi perbedaan pandangan, Medan Buzzer pun divakumkan.

Terus Belajar

Tahun 2015, ceritamedan akhirnya menyewa kantor sendiri yang berlokasi di Perumahan Bumi Asri Medan. Di tahun 2015 pula, ceritamedan bernaung di bawah perusahaan PT Carita Media Mayantara. Transformasi menjadi perusahaan ini menurut Wahyu adalah sebuah keharusan.

SEO

Wahyu berpose di depan kantornya di Perumahan Bumi Asri, Medan

“Sebelum 2015, kantor ceritamedan ya nebeng sama kantor kawan. Ceritamedan dibuat jadi perusahaan karena pernah ada klien kami yang besar yang menolak kerjasama karena kami belum punya legalitas. Kalau kontrak di atas Rp 10 juta itu harus adalah NPWP perusahaan. Jadi itulah alasannya. Setelah itu, alhamdulillah banyak iklan datang. Kami sempat handle perusahaan dari Korea, Line. Waktu itu Line konsentrasi ke tiga kota aja, Medan Makssar, Surabaya, dan untuk Medan kami yang handle,” paparnya.

Dalam perkembangan ceritamedan, Wahyu selalu belajar dan terus belajar. Ia menjadi guru SEO setelah sebelumnya sama sekali tidak mengetahui apa itu SEO, lalu belajar secara otodidak, belajar dari ahli SEO, sampai mengikuti seminar-seminar, hingga akhirnya menjadi narasumber dalam berbagai seminar tentang SEO, internet marketing, dan sebagainya.

“Aku juga kan gak punya latar belakang jurnalistik, dari Waspada Online lha aku belajar. Inilah yang menjadi acuanku dalam merekrut anggota, gak perlu yang jago-jago kali, yang penting dia semangat dan mau belajar. Aku belajar copy writing, rajin ikut seminar SEO dan lainnya, menyerap ilmu dari semua orang,” tegasnya.

SEO

Wahyu menjadi pembicara di salah satu kampus di Medan. Kredit : Instagram.com/wahyublahe

Digital Media Agency

Saat ini ceritamedan beranggotakan lima orang. Ia sendiri sebagai CEO sekaligus editor in chief, satu orang reporter, satu orang bagian keuangan, dan dua orang desainer.

“Sempat ada 10 karyawan, tapi banyak yang keluar begitu tamat dari kampus, karena ketika direkrut mereka memang sedang kuliah. Kendala ketika jadi perusahaan ya jadi gamang tentang soliditas tim. Ada yang masuk, tiga bulan keluar, ada yang masuk lagi ya harus diajari dari awal lagi,” paparnya.

Meski demikian, saat ini ceritamedan sudah mengantongi pemasukan rata-rata di atas Rp 20 juta per bulannya. Uniknya, pemasukan terbesar bukanlah berasal dari iklan di website atau sosial media, melainkan dari social media handling.

Social media handling itu gini, jadi ada perusahaan yang punya sosial media, nah yang meng-handle sosial medianya ya kami, dan ini masih sedikit pemainnya di Medan”.

“Jadi ceritamedan ini bukan hanya sosial media dan website saja, ceritamedan ini komplit, bikin logo oke, brand identity juga bisa. Targetnya dua tahun ke depan kami ingin menjadi digital media agency,” sambungnya.

Saran

Bagi anak-anak muda Medan yang ingin berpenghasilan dari sosial media, lulusan SLTA Al-Ulum Medan ini menyarankan agar mencari sesuatu yang unik dan kemudian mengembangkannya. Ceritamedan contohnya, faktor uniknya adalah tidak memposting segala sesuatu yang berhubungan dengan politik dan kriminal.

SEO

Branding-nya ceritamedan ya di situ, itu dijaga kali. Ada banyak tawaran iklan berbau politik seperti caleg dan sebagainya tapi kami belum kami terima karena tidak sesuai dengan brand image ceritamedan,” tutur penerima Medan Marketeer Champion 2016 dari Mark Plus ini.

Wahyu menambahkan agar jangan sampai terlena akan segala sesuatunya. Ia contohnya mengaku  ketinggalan “main instagram” karena terlena dengan follower twitter @ceritamedan yang sudah melebihi 400.000 pengguna dan terbesar di Sumatera. Meski demikian, Wahyu menegaskan kalau twitter masih hidup dan masih menghasilkan.

“Di saat anak-anak Medan dua tahun belakangan ini bilang kalau twitter udah redup, aku justru berfikir sebaliknya. Penghasilan kami cukup besar dari twitter karena jadi gak ada saingan. Agensi-agensi iklan jadi selalu menggunakan jasa kami. Pasar twitter masih hidup. Korporasi masih banyak yang menggunakan twitter sebagai tolak ukur kampanye atau promonya,” papar anggota Indonesia Marketing Association (IMA) ini.

Wahyu juga menyarankan agar para pegiat sosial media di Medan mulai menggunakan maskot agar cepat dikenal masyarakat.

“Kami di ulang tahun yang kelima kemarin bikin maskot, namanya Cemen, dan maskot ini cukup dikenal dan cepat diingat orang,” tambahnya.

Salah satu postingan di instagram @ceritamedancom menggunakan maskot Cerita Medan, Si Cemen.

Wahyu menutup, salah satu kunci keberhasilan bersosial-media adalah rutin posting, dan selalu update akan hal-hal terbaru.

“Jangan lupa untuk investasi di website, buat yang bagus, karena website itu gak ada matinya,” tutupnya.

 

BIODATA
Nama Lengkap : Wahyu Hidayat
Nama Panggilan : Wahyu Blahe
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 14 Maret 1983
Alamat rumah : Jalan Perkutut No. 281 Perumnas Mandala, Medan
Pendidikan Terakhir : S1 Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)
Status : Belum menikah
Agama : Islam
Sosial Media : @wahyublahe
Website : wahyublahe.com
Alamat Kantor : PT Carita Media Mayantara, Jalan Asrama, Komplek Bumi Asri Blok B No. 186 Medan, 20131
Email : wahyublahe@gmail.com
No. Telepon : 0877 6649 8999