Hendra Gunawan, Teruskan Tradisi Jualan Mie Tiaw Balap

MEDAN. Hendra Gunawan adalah generasi kedua dari penjual mie tiaw goreng jalanan yang akrab dipanggil “mie balap” di Medan. Ia mewarisi “ilmunya” dari paman dan ibunya.

Pria 41 tahun ini sudah mulai mengikuti pamannya berjualan sejak ia masih kecil. Selanjutnya ia membuka sendiri usahanya di lokasi yang sekarang di Jalan Wahidin Simpang Jalan Gajah.

Hendra Gunawan, penjual mie tiaw balap

Hendra Gunawan

Asal Muasal Nama Mie Balap

Kepada kami, Hendra menjelaskan kalau pamannya, Misnan adalah penjual mie tiaw halal pertama di Medan dengan konsep streetfood alias dijual di pinggir jalan, di kawasan Jalan Kalimantan simpang Jalan Sumatera.

“Sebelumnya yang jual mie tiaw itu biasanya ya pakai bak (babi, red). Bisa dibilang keluarga kami lha yang pertama kali jualan mie tiaw goreng di pinggir jalan yang halal, itu sekitar tahun 1976,” terangnya.

Hendra menegaskan, ia sendiri tidak menyebut dirinya menjual mie balap.

“Dari awal saya gak pernah bilang kalo saya jual mie balap, tapi ya jual mie tiaw goreng. Tapi lama kelamaan orang kenalnya di sini ya mie balap,” tuturnya.

Menurut Hendra, yang pertama kali mempopulerkan istilah “mie balap” adalah penjualnya yang berada di Jalan Serdang, Gang Sado.

“Iya, pertama kali itu dipake sama yang jualan di Jalan Serdang Gang Sado, bukan di Jalan Darat. Dibilang mie balap karena yang masak cepat-cepat, dan yang beli juga buru-buru, mau cepat. Kalo soal sejarah ya kami tau kali lha, kan keluarga kami yang pertama kali di Medan,” katanya.

“Sekarang mie balap kayaknya udah jadi salah satu ikon, makanan khas Medan ya,” sambutnya.

Gerai kakilima tempat Hendra berjualan

70 Kg Mie Setiap Hari

Kembali ke cerita Hendra, pria yang telah memiliki tiga orang anak ini, memulai usahanya sekitar tahun 1999. Berbekal resep mie dan sambal dari almarhumah ibunya, ia pun percaya diri membuka usaha sendiri.

“Resep sambalnya itu asli dibuat oleh ibu saya, sekarang resepnya udah diturunkan ke kami. Istri saya sekarang yang membuatnya, saya konsentrasi di jualan mienya aja,” jelasnya.

Kenikmatan racikan mie balap dan sambalnya membuat gerai sederhana Hendra — yang hanya bermodalkan becak modifikasi — selalu laku dan dipenuhi pembeli tiap harinya. Meski harus antri, pembeli rela demi mencicipi kenikmatan mie balapnya.

Hendra mengatakan, setiap harinya ia menghabiskan 70 kg mie (mie tiaw dan mie hun). 15 Kg udang, 15 Kg cumi, dan 6 Kg bakso ikan.

Salah satu karyawan Hendra

“Alhamdulillah, dari jualan kayak gini, ekonomi keluarga tercukupi. Sekarang totalnya saya udah ada tujuh orang yang ikut bantu-bantu jualan,” imbuhnya.

Rencana Ke Depan

Hendra mulai berjualan sekitar jam tujuh pagi, dan biasanya di atas jam sebelas siang jualanannya sudah laku semua. Selanjutnya di malam hari, ia juga membuka gerai di Jalan Panglima Denai, di seberang Jermal IV.

“Kalau yang di Jalan Krakatau itu punya adik saya. Ada juga yang di Jalan HM Joni simpang Jalan Gedung Arca, itu anggota saya juga,” jelasnya.

Seporsi mie balap — mie tiaw atau mie hun — dijual Hendra mulai dari Rp 6.000 per porsi, dan yang paling mahal sekitar belasan ribu Rupiah, yang porsi jumbo plus tambahan seafood.

“Saya juga mau buka cabang di Jalan Jamin Ginting, insya Allah habis hari raya ini,” tutupnya.

BIODATA

Nama Lengkap : Hendra Gunawan
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 11 Juni 1976
Alamat Rumah : Jalan Mandala By Pass, Medan
Agama : Islam
Status : Menikah, 1 istri, 3 anak
No. Telepon : 0812 6393 681