Kafe Menjual Ide Kreatif, Bukan Hanya Menjual Makanan: Ide Ahmadi

MEDAN. Zaman sekarang, bisnis kafe adalah bisnis yang menjual ide keatif, tidak semata-mata jual makanan. Hal ini ditekankan oleh Ide Ahmadi, pemilik Taman Selfie dan Arabika Rooftop Kampung Kuliner, Binjai, yang dalam sebulan penghasilan kotornya mencapai ratusan juta Rupiah.

Sebelum sukses dengan predikat wirausahawan pencetus kafe dan kuliner dengan ide-ide uniknya, Ahmadi muda hanyalah seorang tamatan SMA yang pergi merantau ke Medan dengan tujuan mencari pekerjaan.

“Saya ingat, waktu itu tahun 1996 ketika saya merantau dari kampung di Hamparan Perak, untuk cari kerja di Medan. Saya sempat tidur di mesjid ketika awal-awal merantau di Medan,” kenangnya.

Setelah lamarannya sempat ditolak beberapa pabrik dan restoran, putra sulung dari lima bersaudara ini akhirnya mendapatkan pekerjaannya yang pertama di Medan sebagai seorang surveyor freelance di perusahaan riset dan survey kebiasaan pelanggan.

ahmadi pencetus ide unik di kafe-kafe Medan dan Binjai

Ahmadi

“Di perusahaan ini saya dapat banyak pengalaman, terutama pengetahuan mengenai karakter dan kepuasan pelanggan terhadap sebuah produk,” katanya.

Setahun bekerja di perusahaan tersebut, Ahmadi pun pindah menjadi waiter — sambil berkuliah — ke restoran Waroeng Ubud hingga tahun 2011. Pada tahun tersebut, Ahmadi ditawarkan menjadi seorang supervisor di restoran La Salvador. Tiga bulan setelah bergabung ke restoran yang dulunya beralamat di Jalan S. Parman ini (kini sudah tutup), Ahmadi pun langsung diangkat menjadi seorang manajer di sana.

“Di La Salvador ini saya mulai kenal dengan teman-teman dari media. Di sini juga saya mulai buat promo-promo unik seperti menjadikan Jalan S. Parman sebagai kawasan kuliner pada tahun itu, sampai membuat umbrella girl, perempuan cantik yang memayungi pelanggan untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan begitu turun dari mobilnya,” paparnya.

Di tahun 2006, Ahmadi pun bergabung menjadi manajer di Restoran Koki Sunda. Di sini, ayah dari tiga orang ini makin sering membuat promo dengan ide unik dan fresh.

“Di ultah Koki Sunda yang keempat saya buat Demo Terasi. Isinya 50 orang pegang spanduk, teriakkan yel-yel, ada orator, pas seperti demo. Konsepnya, kalau ada ramai-ramai di jalan orang kan pasti berhenti terus melihat kerumunan dan cari tau. Alhamdulillah ini diliput semua wartawan tv, hingga macet sampai Sun Plaza, dan akhirnya dibubarkan Satlantas. Di situ media mulai melirik,” paparnya.

Ide Unik Ahmadi

Ahmadi menjelaskan, hasratnya yang ingin selalu menciptakan ide unik di restoran yang dikelolanya bertujuan agar ia dan restorannya diliput di oleh media, baik lokal maupun nasional.

“Kalau mau beriklan itu mahal, baik di koran, radio, apalagi tv pasti mahal sekali. Tapi saya masih mau masuk tv. Jadi saya pikir saya harus bikin konsep unik agar diliput media, ya seperti demo terasi itu,” tuturnya.

Setelah beberapa kali berbincang dengan kenalannya di berbagai media, Ahmadi pun mulai menemukan pola dan formula bagaimana restorannya bisa diliput oleh media massa.

“Polanya adalah media butuh sesuatu yang unik. Selanjutnya saya cari momen yang pas, biasanya momen nasional, dan membuat promo unik, agar diliput dan tayang, kalau diliput aja itu gampang, tapi bagaimana tayang di medianya yang agak susah,” jelasnya.

“Apa yang menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain. Ketika menginspirasi jadinya unik,” lanjutnya.

Ketika pemilu yang pas dengan momen Piala Dunia,  Ahmadi pun merealisasikan ide uniknya dengan membuat TPS (tempat pengambilan suara) berbentuk stadiun sepakbola. Konsepnya benar-benar sepeti stadion sepakbola, ada gawang, lapangan, hingga pemainnya (yang diwakilkan oleh panitia yang berkostum tim sepakbola). Bukan itu saja, Ahmadi pun memberikan seporsi makanan gratis bagi yang sudah mencoblos di pemilu dengan menunjukkan tinta di jarinya.

Liputan TPS berbentuk stadion bola di salah satu stasiun tv swasta nasional

“Alhamdulillah, hampir semua tv meliputnya, bahkan Metro TV dan TV One mengirim mobil satelit mereka langsung ke restoran. Lama kelamaan jadi berbalik, dulu saya yang butuh diberitakan, kini mereka yang butuh berita, mulai saling butuh,” jelasnya.

Sembari bekerja sebagai manajer di Koki Sunda, Ahamdi juga berperan sebagai konsultan promosi restoran.

Ahmadi menceritakan, salah satu idenya yang menjadi viral adalah ketika dia mengkonsultasi sebuah kafe di daerah Asrama Haji, Titi Kuning. Ia membuat promo diskon sesuai dengan jumlah batu cincin yang dipakai oleh pembeli yang datang ke kafe.

“Diskon 10% kalau pakai satu batu cincin, Jadi kalau pakai 10 batu cincin ya gratis makan. Di zaman-zamannya batu cincin itu, liputannya naik di hampir seluruh media cetak, grup kompas gramedia itu semuanya memberitakan sampai ke koran-koran di luar pulau Sumatera juga, selain tv nasional ya,” paparnya.

“Diliput dan tayang di tv nasional itu penting. Simpelnya gini, kita pasti sering dengar ungkapan makan kemari yok udah masuk tv soalnya. Begitulah senangnya ketika kafe atau restoran kita naik di koran lokal apalagi tv nasional,” lanjutnya.

Hijrah

Ahmadi sudah berkomitmen ke dirinya sendiri kalau ia ingin mandiri, punya usaha sendiri sebelum beusia 40 tahun. Akhirnya di Februari 2015 ia memutuskan untuk keluar dari Koki Sunda.

Di awal 2015, ketika ia jalan-jalan ke Binjai, ia menemukan sebuah lokasi strategis yang oleh pemiliknya disebut akan dibuka bisnis kuliner, tapi masih bingung dengan jenisnya.

“Saya tanya dengan pengelolanya, mereka mau buat apa, mereka bilang mau buat food court. Saya bilang kalo food court gak akan bertahan lama, paling enam bulan tutup. Saya keceplosan, saya bilang kalo food court biasanya gak punya magnet yang besar, terus yang berjualan juga tidak terpilih, cenderung asal-asalan. Akhirnya si pemilik membuka kesempatan kerjasama dengan saya. Modal saya cuma perlengkapan restoran tidak melekat ke bangunan, bangunan disediakan, dekorasi dan konsep sesuai yang saya mau, jadi kalo gagal saya tinggal angkat barang, lalu terbangunlah Kampung Kuliner di situ,” papar Ahmadi panjang lebar.

kampung kuliner binjai

Kredit: Instagram.com/kampung.kuliner

Niatannya untuk memiliki usaha sendiri bukan tanpa halangan. Molornya jadwal penyelesaian Kampung Kuliner membuatnya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit

“Saya resign bulan Februari dan berharap bulan April Kampung Kuliner udah mulai beroperasi, tapi karena pengerjaan yang molor Kampung Kuliner justru baru bisa dibuka pada Juli 2015. Padahal sejak bulan dua itu saya sudah mulai terima karyawan, training mereka, dan menggaji mereka dengan penuh. Saya jadi kehabisan amunisi, saya jual mobil saya,” tuturnya.

Ahmadi juga mengucapkan terimakasihnya kepada Suratno, pemilik franchise Joko Solo. Suratno adalah salah seorang yang mendukung penuh Ahmadi untuk hijrah dari karyawan menjadi wirausahawan.

“Binjai itu kota yang tidak dilirik pengusaha Medan. Terimakasih buat Mas Ratno Joko Solo, yang bilang dukung saya untuk hijrah. Saya bilang kalo saya hijrah tolong di-support ya. Joko Solo awalnya gak mau buka di Binjai. Saya tagih janji Mas Suratno untuk dukung saya dan akhirnya ia membuka Joko Solo di Binjai. Jadi Kampung Kuliner itu banyak tertolong dengan hadirnya Joko Solo di sana, jadi magnet kampung kuliner saat itu, karena Joko Solo adalah merek yang sudah dikenal masyarakat,” sambungnya. .

“Ketakutan diri sendiri untuk hijrah dari bekerja menjadi wirausahawan adalah rasa khawatir, kurang percaya diri. Ketakutan besar, kalau buka usaha terus gak laku gimana ya, anakku makan apa ya. Ini pasti akan dialami semua orang yang hijrah dari karyawan ke usahawan. Tapi karena banyak yang dukung dan memang diniatkan, saya coba buka,” lanjutnya lagi.

Di Kampung Kuliner, Ahmadi mendapatkan dua gerai pertama menjual minuman dengan menu andalan “Es Teler 10 Juta” dan gerai kedua adalah Arabika Rooftop. Dengan tetap mengaplikasikan ide-ide uniknya, animo warga Binjai dan Medan akan Kampung Kuliner juga cukup besar.

meja jomblo kampung kuliner

“Kami buat slogan-slogan “Kalau Ingin mengubah Keturunan Datanglah Ke Binjai”, “Meja Jomblo”, Ini viral sampai ke Medan. Waktu 17 Agustus kami juga pernah buat promo kalau hapal lagu Indonesia Raya gratis makan mie sop kampung,” jelasnya.

Pergeseran Tren Bisnis Kafe

Ahmadi menjelaskan, hari ini bisnis kafe adalah jualan kreatif, gak hanya jual makanan.

“Kalo buka usaha yang udah punya brand, nama, tentu akan mudah karena udah dikenal. Pemain baru gimana? Apa harus siap rugi tiga tahun dulu baru bisa naik ?  Kadang-kadang enam bulan rugi bisa langsung tutup kan,” tegasnya.

Untuk itu, Ahmadi menyimpulkan, saat ini media sosial adalah sarana dan media paling ampuh untuk mempercepat akselerasi agar sebuah kafe dikenal.

“Tapi tentunya objeknya, makanan yang dijual juga harus menarik. Kalo obyeknya menarik, unik, apalagi difoto dengan bagus orang akan tertarik. Tapi kalau objeknya kurang menarik mau fotografer level nasional juga susah bikin orang tertarik dengan makanan tersebut,” jelasnya.

mie terbang arabika rooftop

Mie Terbang Dua Tingkat, salah satu menu di Arabika Rooftop, Kampung Kuliner

Untuk itu, Ahmadi menyarankan agar sebuah kafe atau restoran harus mempunyai karakter tersendiri.

“Harus unik agar memancing orang datang dulu, lalu foto makanan kita, check in, dan upload di media sosial, ini kan udah nyebar kemana-mana, ” ungkapnya.

Ahmadi kembali menuturkan, nama menu dan cara penyajian sebuah menu makanan juga perlu diperhatikan. Ia mencontohkan menu “Es Teler 10 juta” di Kampung Kuliner.

“Menu ini kan jadi pembicaraan orang. Walaupun gak pernah coba menunya, dan gak pernah lihat langsung, namun ketika ia membaca, lalu menemukan tentang kuliner unik seperti es teler 10 juta, ini sebenarnya sudah tertanam di alam bawah sadarnya. Saya sering sampaikan kalau makan itu adalah sugestinya yang paling besar,” jelasnya.

Ahmadi mengutarakan, saat ini terjadi pergeseran tren bisnis kafe. Ibu-ibu arisan, anak muda, tidak penting dimana, tidak penting makannya apa, yang penting selfienya bagus. Hari ini orang-orang butuh makanan yang bagus untuk disandingkan dalam selfie mereka.

“Taman Selfie saya bangun untuk menjawab hasrat selfie orang sekarang.  Di Taman Selfie kaya akan spot-spot selfie yang instagramable, maka saya membuka Taman Selfie, di Februari 2017,” tuturnya.

taman selfie binjai

Gerbang masuk taman selfie di Binjai

Rencana Ke Depan

Saat ini Ahmadi sudah mengantongi penghasilan kotor dari dua gerainya di Kampung Kuliner dan Taman Selfie sebesar ratusan juta Rupiah per bulan. Ia juga telah memiliki sekitar 45 orang karyawan.

“Saya tidak menggaji karyawan saya. Karyawan saya tawarkan bayaran berupa saham, persenan dari total penjualan dalam sebulan. Kalau penjualan tinggi maka pendapatannya per bulan tinggi, kalau penjualan rendah, pendapatannya pun ikut rendah. Bonus tetap ada. Ketentuan ini sudah disetujui ketika si karyawan diajak untuk bergabung ke dalam tim saya,” paparnya.

Ke depannya Ahmadi berencana untuk membuka tempat selfie yang ada kafenya, bukan lagi kafe yang ada tempat selfienya.

“Mungkin paling lambat tahun depan ada satu konsep selfie motivasi, bakal ada puluhan spot selfie yang bisa memotivasi anak. Doakan saja ya,” tutupnya.

BIODATA

Nama : Ahmadi
Tempat, Tanggal Lahir : Hamparan Perak, 12 Agustus 1978
Agama : Islam
Status : Menikah, 3 orang anak
Pendidikan Terakhir : Sekolah Tinggi Tenik (STT) Harapan Medan, Semester 8
Alamat : Daerah Ringroad, Medan
Sosial Media : Ide Ahmadi