Itak Pohul-Pohul, Kue Khas Sumatera Utara

MEDAN. Sumatera Utara (Sumut) punya banyak kuliner dan kue khas, salah satunya adalah itak (kue) pohul-pohul. Perjumpaan kami pertama kali dengan kuliner lokal khas Sumut ini adalah ketika menghadiri sebuah undangan di sekitar daerah Asahan. Di sana, kami disuguhkan panganan lokal yang sebelumnya belum pernah kami cicipi.

“Jadii, itak ini dulunya cuma dibuat pas acara-acara besar dan khusus untuk raja-raja,” kata seorang ibu dengan aksen Batak yang kental.

“Kalau di daerah kami, di Tanjung Balai, itak pohul-pohul ini dulunya bukan makanan rakyat biasa, tapi makanan raja-raja,” timpal seorang bapak.

itak pohul-pohul

Menariknya, bahan pembuat panganan ini memang betul-betul memanfaatkan bahan pangan lokal. Itak pohul-pohul ini dibuat dari tepung beras – idealnya berasnya ditumbuk sendiri sampai halus, berasnya juga beras yang baru dipanen –
ditambah kelapa, gula (bisa gulanya gula merah atau gula putih). Disebut pohul-pohul karena kue ini dibuat dengan cara digenggam, dipadat-padatkan, tanpa dimasak. Kalau dilihat dengan teliti, bentuknya memang menyerupai tekstur genggaman tangan. Leluconnya, kue ini makin enak, karena (maaf) bercampur keringat dari orang yang membuatnya. Hahahaha.

Nah, pas kami cicipi tadi, bah, mantap rasanya. Segar, dan tentu saja sehat karena katanya panganan ini mengandung gizi seperti karbohidrat, protein, vitamin B1, B2, B3, B6, zat besi, kalsium, lemak, omega 3, dan serat.

Selain itu, itak pohul-pohul juga sering dijadikan buah tangan bagi pihak keluarga yang datang berkunjung dalam rangka pembicaraan adat, misalnya, membicarakan rencana perkawinan putra dan putri kedua belah pihak. Tentu saja dalam hal ini pohul-pohul ini hanya oleh-oleh pendamping belaka, karena oleh-oleh utamanya biasanya berupa ikan mas yang diolah arsik, naniura, dan sebagainya.

Jadi, sudah pernahkah kamu makan pohul-pohul?