Katupek Gulai Paku Ajo Fendi Tanjung, Rancak Bana!


MEDAN. “Takana jo kampuang, induak ayah adik sadonyo, raso maimbau-imbau den pulang, den takana jo kampuang”. Sepenggal lirik dari lagu daerah Minangkabau mungkin sudah tidak begitu asing di telinga kita. Lirik tersebut menceritakan rasa rindu kampung halaman, tanah Minang. Bagi anda perantau Minang yang tinggal di Medan, untuk sekedar melepaskan rindu kampung halaman, coba kunjungi warung Katupek Gulai Paku Ajo Fendi Tanjung. Warung ini mampu mengajak anda nostalgia dengan tanah Minang melalui rasa dan aroma sajian khasnya.

Warung lontong khas Minang ini terletak di Jalan Denai No.24 C, Medan. Jika anda dari arah Pasar Sukaramai, warung ini berada di sebelah kanan, sebelum pertigaan MandalaBy Pass.

Sore itu (26/06/2013), kami mengunjungi warung yang menyediakan kuliner khas Minang ini. Tak menunggu berapa lama, datanglah pesanan kami. Sepiring katupek gulai paku dan sepiring kue salakbulek. Katupek gulai paku adalah potongan ketupat yang disiram dengan gulai pakis, sambal, sebutir telur bulat goreng, potongan tempe goreng kering, dan kerupuk merah. Sedangkan kue salakbulek adalah kue yang berbentuk bulat dan berwarna kuning, dibuat dari adonan tepung beras, ikan teri, sambal, daun kunyit , dan lainnya yang digoreng kering.

Yang membuat seporsi Katupek Gulai Paku Ajo Fendi Tanjung ini spesial adalah ketupatnya padat dan tidak lembek. Gulai pakisnya juga pas, sangat berasa Minangnya, rasa asin, gurih dan pedasnya cukup menonjol. Kue salakbulek yang disajikan juga cocok dimakan dengan ketupat gulai pakis. Tidak heran, karena yang meraciknya adalah orang Minang asli yang sudah berpuluh tahun merantau di Medan. Alamaaak rancak banaaaa.

Seporsi katupek gulai paku di warung yang mulai buka pada sore hari ini dihargai lima ribu perak, atau tujuh ribu perak jika pake telur bulat goreng. Sedangkan kue salakbulekdihargai dua ribu perak per tiga buah. Harga ini cukup murah dan ramah di kantong. Warung ini juga menjual beberapa panganan khas Minang lainnya seperti keripik ubi pedas, keripik jangek (kulit), dan lainnya.

Sebenarnya kami berniat tamboh ciek, tapi ternyata seporsi katupek gulai paku dan enam buah kue salakbulek saja sudah sangat mengenyangkan perut ini.

“Panduduaknyo nan elok, nan suko bagotong royong, sakik sanang samo-samo diraso, den takana jo kampuang”. Akhirnya, katupek gulai paku ini berhasil menggoda kami untuk kembali mengunjungi tanah Minang, tanah asal kakek-nenek kami. Takanaaa jo kampuaaaang. (mhm/01)