Ketoprak S. Parman, Ketoprak A La Medan

MEDAN. Bagi sebagian masyarakat Medan, nama “ketoprak” mungkin sedikit asing di telinga. Hal ini cukup wajar karena panganan ini berasal dari ibukota Indonesia, Jakarta.

Ketoprak sendiri biasanya terdiri atas ketupat, tahu, mie hun, dan tauge yang disiram kuah kacang dan gula merah yang diulek dengan tambahan cabe rawit, plus kecap manis dan kerupuk. Yang membedakan kuah kacang ketoprak dengan pecal adalah ketoprak tidak menggunakan kencur dan dominan di bawang putih. Di Jakarta, biasanya ketupat dijajakan menggunakan kereta dorong di jalan-jalan atau di kaki lima.

Cerita punya cerita, ternyata di Medan juga terdapat beberapa penjual ketoprak. Salah satu ketoprak yang patut dicoba pecinta kuliner di Medan adalah yang berlokasi di Jalan S. Parman, di depan Bank BJB.

Malam itu (13/01), kam tertarik untuk mencoba ketoprak yang selalu ramai dipenuhi dengan pembeli ini. Warung ketoprak ini cukup sederhana. Rak steling kayu yang berdindingkan kaca dengan ukuran sekitar 2 m x 1 m, dijadikan “dapur” pengolahan ketoprak adalah dua orang “koki”. Sementara para pembeli dipersilahkan duduk di kursi plastik dan meja plastik yang di atasnya sudah terhidang risoles, kerupuk udang, hingga keripik sambal.

One person one ketoprak”. Sama seperti di Jakarta, sistem pembuatan ketoprak ini dikerjakan satu porsi untuk satu orang. Mulai dari pengulekan bumbu kacang, bawang putih, cabe rawit dan gula merah hingga penaburan kerupuk di atas ketoprak. Di satu sisi hal ini membuat kita merasa spesial, namun di sisi lain kita harus rela sedikit lama menunggu.

Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, pesanan kami pun dihidangkan di meja. Sekilas kami melirik ke ketoprak ini, kami langsung mengetahui kalau ada beberapa perbedaan dengan ketoprak yang biasa kami makan di Jakarta. Pertama, ketoprak ini menggunakan lontong, sedangkan di Jakarta menggunakan ketupat. Kedua, ketoprak ini menggunakan telur rebus, sedangkan yang biasa kami makan di Jakarta tidak. Ketiga, perbedaan mencolok dari porsinya; ketoprak di Jakarta porsinya sangat banyak – terkadang kerupuknya tumpah-tumpah -, namun ketoprak di depan kami ini cukup “hemat” porsinya. Meski demikian, porsinya yang hemat ini cukup untuk mengganjal perut di kala mentari telah terbenam di ufuk barat.

Dari segi rasa, ketoprak di Jalan S. Parman ini terbilang cukup enak. Namun bagi mereka yang kurang suka bawang putih, mungkin tidak terlalu suka karena aromanya cukup dominan. Untuk harganya, seporsi ketoprak yang buka setelah maghrib ini bisa dinikmati dengan mengeluarkan kocek sebanyak dua belas ribu rupiah.

Jadi jika anda ingin mencicipi ketoprak a la Medan, silahkan meluncur langsung ke Jalan S. Parman di depan Bank BJB. (mhm/01)