Komik Digital No. 1 di Medan: Digidoy

MEDAN. Pecinta komik di Medan patut berbangga hati. Pasalnya kota ini telah memiliki komik digital yang kualitasnya diakui hingga level nasional. Digidoy namanya.

Komik strip digital ini mulai eksis sekitar tahun 2014, dirintis oleh Dody Pratama dan M. Arief Siregar.

“Tujuanku buat komik adalah untuk mengenalkan kota medan dengan menciptakan karakter lokal khas Medan,” kata Dody yang berperan sebagai komikus, sementara Arief yang memikirkan strategi marketing.

Selanjutnya, Dody dan Arief menciptakan dua karakter yang dijadikan tokoh utama dalam komiknya. Mereka adalah Doy dan Digi. Doy digambarkan sebagai karakter anak Medan yang lugu dan culun punya. Digi adalah alien berbentuk telur yang tersesat di Medan, bertemu Doy, dan akhirnya bersahabat.

“Itulah asal mula nama Digidoy,” kata Dody.

komik digidoy

Artwork Digi dan Doy, Digidoy di kantor Digidoy di Jalan Jati II

Selanjutnya, untuk mensosialisasikan komiknya, Dody dan Arief menggunakan sosial media facebook. Sampai akhir 2014, Dody dan Arief rutin memposting komik Digidoy di facebook page yang mereka buat, meski respon belum begitu menggembirakan.

Tahun berikutnya, 2015, bergabunglah Fajar yang juga teman dari Arief. Fajar membidani Digidoy sehingga menjadi lebih tertata. Fajar membuat Digidoy menjadi lebih formal tanpa meninggalkan ciri khasnya. Fajar juga yang menetapkan standardisasi Digidoy dan merekrut lebih banyak individu yang punya visi yang sama untuk diajak ke dalam tim dan keluarga besar Digidoy.

“Jadi bisa dibilang aku dan Bang Arief itu founder Digidoy, dan Bang Fajar co-founder Digidoy,” jelas Dody.

Salah satu hasil perekrutan tim adalah Yasir, senior ilustrator yang punya pengalaman banyak dalam hal ilustrasi dan animasi. Yasir kemudian yang merapikan karakter Digidoy dan menambah beberapa karakter baru seperti Coki dan Dev. Coki digambarkan sebagai perantau dari kampung yang datang ke Medan. Orang kampung datang ke kota. Coki datang ke Medan ingin cari kerja tapi gak ada target kerja dimana, semua dikerjai yang penting gampang dapat duit. Coki juga mudah bergaul. Sementara Dev digambarkan sebagai karakter yang berasal dari Medan, orang kaya, saudagar, tapi masih mau bergaul dengan Doy, Digi, dan Coki.

“Kemunculan dua karakter ini memang membuat Digidoy lebih berwarna. Meski harus diakui setelah kemunculannya,karakter Coki jadi cukup dominan, mengalahkan ketenaran Doy dan Digi. Dominannya si Coki ini karena di kehidupan nyata memang ada kelakuan orang Medan yang mirip si Coki ini. Hahaha. Kecupuan Doy kalah dari Coki,” papar Dody.

Komik Digidoy

Keterangan: Dev berbaju kuning, DOy berbaju hijau, Digi telur berwarna biru, Coki yang memakai ikat kepala. Kredit: Instagram.com/digidoy

Selanjutnya Digidoy pun semakin menunjukkan grafik menanjak dalam performanya. Hingga kini, Digidoy sudah beranggotakan tujuh orang, termasuk Dody, Arief, Fajar, Yasir, dan lainnya. Ketujuh orang tersebut pun telah berpenghasilan dari Digidoy.

“Pemasukan terbesar kami dari penjualan merchandise kaos, stiker Line, stiker, hingga komik kreatif yang dikerjasamakan dengan perusahaan. Dari merchandise saja omset per bulan sekitar Rp 20 juta,” kata Dody.

Digidoy sendiri cukup banyak terbantu dari booming-nya media sosial. Kini Digidoy cukup eksis di Facebook Page dan Instagram.

“Dulu kan ribet mau jadi komikus harus buat ceritanya dulu. Gitu komik udah jadi baru dikasih ke penerbit, di-review penrbit dulu, kalo oke baru terbit, kalo enggak cari lagi yang lain. Kalo sekarang kan enggak, tinggal unggah aja di sosial media,” kata Dody.

Tim Komik Digidoy

Sebagian besar tim Digidoy

Buah kerja keras tim Digidoy untuk menghadirkan komik yang mengangkat karakter lokal khas Medan akhirnya diganjar “Kosasih Award” sebagai “Komik Strip Digital Terbaik Nasional di Tahun 2016”.

“Ke depannya Digidoy sudah memilki cukup banyak rencana seperti mencoba bermain di animasi, hingga pengembangan website,” tutup Dody.