Menikmati Mie Ayam Akong / Acim

MEDAN. Jujur, selama hampir tiga puluh tahun lahir ke dunia dan tinggal di ibukota Sumatera Utara ini, kami belum pernah sekali pun mencoba Mie Ayam Akong / Acim yang terletak di persimpangan Jalan Gwangju dan Jalan Perniagaan. Padahal kesohoran mie ayam ini sudah menjadi buah bibir pecinta kuliner di Medan. Setelah membulatkan tekad, kemarin sore (08/10), akhirnya kami pun “berhasil” mencicipi citarasa mie ayam yang sudah berdiri 30-an tahun di kota Medan ini.

Tidak susah menemukan lokasi Mie Ayam Akong Acim yang berdiri di sebuah ruko ini, apalagi sore itu lalu lintas kota Medan di sekitaran Jalan perniagaan tidak begitu ramai. Ada tiga pilihan ukuran porsi disini, yakni porsi kecil, biasa dan jumbo. Kami pun memilih porsi biasa. Sembari menunggu pesanan dibuat, pandangan mata kami tertuju ke salah satu sudut ruangan yang di dindingnya tertempel stiker dengan latar belakang warna kuning bertuliskan “Legenda Kuliner”. Hal ini membuat kami semakin tidak sabar untuk segera mencicipi mie ayam yang katanya sudah melegenda ini.

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pelayan pun menghidangkan pesanan kami, seporsi mie ayam dan mie tiaw kuah. Mienya yang cukup pulen, kuah kaldunya yang segar, bakso ikannya yang enak, suwiran ayam kecapnya yang manis-manis gurih, dan potongan telur bebeknya merupakan kombinasi yang mampu memanjakan lidah kami. Yang sedikit unik adalah penggunaan potongan-potongan cakue yang turut dihidangkan dalam semangkuk mie ayam ini. Meskipun seporsi mie ayam dan mie tiauw dihargai dua puluh tujuh ribu perak, kami rasa harganya masih sepadan dengan rasa yang didapatkan.

Mengenai kehalalan mie ayam yang dijual oleh warga Medan keturunan Tionghoa ini, insya Allah kami yakin. Setidaknya mereka menampilkan label dan tulisan halal di warungnya (walaupun belum ada label halal dari Majelis Ulama Indonesia), yang tidak dijumpai di warung-warung mie ayam sejenis milik keturunan Tionghoa lainnya. (mhm/01)