Muslimah Muda, Gak Malu Jual Pecel Keliling: Hosena

MEDAN. Muslimah, masih muda, berhijab, punya paras menarik, dan tidak malu berjualan pecel keliling. Ya, ini semua terwujud dalam pribadi seorang Hosena Pratiwi, yang akrab dipanggil Sena.

Sebelumnya perempuan kelahiran Bangko Jaya ini tidak pernah sama sekali terpikir untuk berjualan pecal keliling. Adalah keadaan yang “memaksa” ia untuk berbuat demikian.

“Bapak mengundurkan diri dari Chevron, lalu kami sekeluarga balik ke Medan dari Riau. Bapak bilang kalo mau kuliah dia gak bisa biayain, kalo mau kuliah ya harus biaya sendiri,” kata Sena.

Ayahnya kemudian menyarankan Sena untuk berjualan pecel yang resepnya didapat dari nenek Sena yang asli Madiun, Jawa Timur.

Hosena Pratiwi

“Awalnya gak mau lha, Bang, soalnya disuruh keliling, siapalah anak gadis yang mau,” kenangnya.

Meski demikian Sena masih setuju dengan syarat berjualan pecel di satu tempat khusus, lengkap dengan steling kaca.

“Tapi ya gitu aja, penjualan stagnan, gak ada kemajuan dalam sebulan, sedangkan daftar kuliah udah mau dekat. Akhirnya tergadai laptop yang paling disayang, yang dikasi Bapak, makanya akhirnya mutuskan untuk jualan pecel keliling,” paparnya.

“Waktu itu aku hancur-hancuran juga, berhutang, gagal di MLM,” sambungnya.

Sena melanjutkan, agar ia semangat berjualan, ayahnya memberi semacam “mantra” ke dirinya.

“Kalok mau jualan kau tutup mata kau itu, kau bayangkan aja kau pahlawan, nanti dari pecal kau ini, kau bisa mempekerjakan orang lain. Kau tau pahlawan masa kini? Pahlawan masa dulu ya pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kalo sekarang yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan itu yang namanya pahlawan,” kata Bapak ke awak (saya, red)pas pertama kali mau jualan pecel keliling,” kenangnya.

Akhirnya setelah membulatkan tekadnya, muslimah yang punya lima orang saudara kandung ini pun mulai mengayuh sepedanya yang bagian belakangnya dimodifikasi sehingga bisa muat beragam jenis makanan yang bisa dimakan bareng bumbu pecel. Sekitar jam sepuluh pagi, tiap hari, Sena berkeliling di sekitar daerah Jalan Amaliun – Jalan Puri – Jalan Japaris – Jalan Laksana, daerah Kecamatan Kota Matsum.

“Nah itu dulu, pas pertengahan tahun 2014, awal-awal jualan keliling, kalok sekarang dari sekitar jam 10 pagi awak nongkrong di seberang RSU Madani di Jalan A. R. Hakim / Jalan Bakti. Nanti jam 3 sore baru keliling lagi di sekitaran daerah Kota Matsum, sayang udah banyak langganan di sana. Terus gitu adzan maghrib, habis gak habis awak pulang,” paparnya.

Mie – sayur – gorengan – sate-satean + bumbu pecal yang dijual Sena

Gotong Royong

Sena menerangkan, ia dan keluarganya bergotongroyong menyiapkan pecel yang akan dijualnya.

“Yang masak Mamak, aku, dan Bapak juga bantu. Mamak juga ikut jualan pecel keliling,” katanya.

“Bedanya dari pecel yang kami jual itu di bumbunya yang khas Madiun, dari nenekku, terus sayurnya lengkap ada genjer dan pakis, tapi gak pakai bunga turi karena di Medan susah nyarinya,” sambungnya.

Sena juga menyampaikan, mie dan gorengan yang ia jual minim penyedap rasa buatan.

“Kalo harga ya kayak pecel-pecel biasa lha, bahkan anak-anak beli Rp 1.000 pun aku kasi aja,” imbuhnya.

Bakwan digunting pakai mie kuning, lalu disiram bumbu pecal, masya Allah enyaaaaaaaak!

Dengan berjualan pecel keliling seperti ini, muslimah satu ini sukses mendulang omset sekitar Rp 500.000 per harinya.

“Alhamdulillah omsetnya dapat segitu, tapi sebenarnya sampai sekarang setiap keluar masih ada malunya, pastilah, hehehe. Masih malu, awak pikir pasti kulit makin item. Tapi karena awak masih punya mimpi yang lebih besar makanya santai aja. Mimpinya pengen total ngembangingin pecel ini jadi makin banyak orang yang bisa nikmatin,” paparnya.

Rencana Ke Depan

Sena mengutarakan, saat ini dia fokus dalam berjualan pecel dan punya beberapa rencana ke depan. Untuk itulah ia rela meninggalkan kuliahnya di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).

“Awak kuliah sampai semester dua aja, soalnya kuliahnya di negeri, gak bisa diikuti jadwalnya. Menurut Sena ada banyak pilihan dalam hidup ini, dan setiap pilihan punya resiko, kalo Sena ambil kuliah sambil jualan maka bisa jadi dua-duanya gak maksimal atau dua-duanya berjalan lambat, jadi Sena pilih jualan dan itu yang Sena maksimalin. Kalo pun nanti mau kuliah ambil yang bisnis aja,” tegasnya.

muslimah penjual pecal

Ke depannya Sena ingin lebih meningkatkan awareness masyarakat di Medan tentang brand yang diusungnya, yakni Pecel Nek Atik, yang diambil dari nama neneknya

“Pengen fokus juga nge-branding di sosial media dan pakai tenaga orang lain, soalnya kalok awak juga yang ngurus kayaknya gak bisa,” tuturnya.

Sena juga punya rencana untuk meng-upgrade kendaraan berjualannya, dengan menggunakan gerobak bersteling kaca yang digandeng dengan sepeda atau sepeda motor.

“Biar pilihan menunya lebih banyak,” sebutnya.

Sena menambahkan, buat yang ingin mulai berjualan atau membuka usaha, sangatlah penting untuk menyiapkan mental terlebih dahulu.

“Gak boleh gengsi,” tutupnya.

BIODATA
Nama Lengkap : Hosena Pratiwi
Tempat/Tanggal Lahir : Bangko Jaya, 07 April 1995
Pendidikan Terakhir : Madrasah Aliyah
Alamat : Jalan Bromo Gang Pribadi, Medan
Email : hosenapratiwi@gmail.com
Instagram : @pecelnekatik