Nasi Lemak Pajak Beruang, Gurihnya Nendang

MEDAN. Nasi lemak adalah nasi khas Melayu yang dimasak dengan menggunakan santan kelapa dan biasa dihidangkan untuk sarapan pagi. Istilah lemak dalam Bahasa Melayu atau lamak dalam Bahasa Minangkabau merujuk kepada rasa dan tekstur gurih berminyak yang dihasilkan santan kelapa yang melepaskan kandungan lemak nabatinya ke dalam nasi yang tengah ditanak.

Awalnya kebiasaan memakan nasi lemak dimulai sebagai bekal makanan kepada petani-petani padi ataupun para pekerja perkebunan seperti karet, kelapa sawit, sayur-sayuran dan lain-lain. Di Medan, nasi lemak lebih dikenal dengan sebutan nasi gurih.

Ada banyak warung yang menjual nasi lemak di Medan. Salah satu favorit kami adalah warung Nasi Lemak Pajak Beruang yang dijual di Pajak (masyarakat Medan menyebut “pasar” dengan istilah “pajak”, red) Sukaramai, Medan. Pagi itu (28/09/2013), kami pun berniat menyantap hidangan yang konon katanya berasal dari Malaysia ini.

Tidak susah menemukan warung nasi ini. Nasi Lemak yang dijual dengan menggunakan gerobak dorong ini terletak di Jalan Aksara, Pajak Sukaramai. Jika anda dari arah Jalan Bakti, warung ini berada di sisi kiri jalan. Akibat situasi jalan yang amat padat karena difungsikan sebagai pajak, cara tercepat untuk mencapai warung ini adalah menggunakan jalan pintas dari jalan menuju Komplek Asia Megamas.

Setelah sampai di warung yang dituju, kami pun langsung memesan nasi lemak dengan telur dadar dan dendeng untuk dimakan di rumah. Setelah menerima pesanan kami, sang penjual yang terdiri dari seorang ibu paruh baya dan anaknya dengan sigap menyiapkan pesanan kami. Nampaknya sedikit tidak mungkin untuk menikmati nasi lemak langsung di tempatnya, karena penjual sama sekali tidak menyediakan kursi, bangku, apalagi meja untuk duduk.

Alkisah, warung ini dinamai Nasi Lemak Pajak Beruang karena mereka sebelumnya berjualan di pajak di Jalan Beruang, di dekat Jalan Wahidin, Medan. Mereka pindah ke Pajak Sukaramai karena merasa pajak tempat mereka berjualan sebelumnya sudah sangat padat. “Untuk parkir kereta (sepeda motor) aja susah cari tempatnya”, ungkap Ibu yang sudah berjualan nasi lemak selama lebih dari tiga puluh tahun ini.

Pesanan kami pun siap dibuat. Seporsi nasi lemak dengan dendeng yang dihargai sepuluh ribu rupiah, dan seporsi nasi lemak dengan telur dadar yang dihargai tujuh ribu rupiah.

Sesampainya di rumah, saatnya menikmati hidangan yang menggiurkan ini. Nasi lemak ini dibungkus dengan daun pisang agar rasanya tetap terjaga. Suapan demi suapan menyiratkan rasa sempurna dari seporsi nasi lemak ini. Nasi lemaknya enak dan gurih. Aroma santan dan daun sereh yang dipakai untuk menanak nasinya cukup dominan. Bumbu rendang yang dibubuhkan juga mempunyai rasa yang menyatu dengan nasi lemaknya. Selain itu juga terdapat kerupuk merah, potongan timun, dan sedikit ikan teri sambal dalam seporsi Nasi Lemak Pajak Beruang ini.

Namun kenikmatan ini tidak berhenti disini. Yang membuat nasi lemak ini menjadi lebih istimewa adalah dendengnya yang subhanallah nikmat sekali. Dendeng daging sapi yang ditaburi biji wijen ini rasanya manis dan gurih. Kami merasakan sensasi rasa yang luar biasa dalam seporsi nasi lemak ini. Gurih, pedas, asin, manis bersatu padu menjadi satu kesatuan rasa yang luar biasa nikmatnya.

Bagi yang ingin mengurangi konsumsi daging, mungkin bisa memilih telur dadar, telur mata sapi, ayam, perkedel, dan lainnya sebagai lauk pengganti dendeng. Telur dadarnya sendiri cukup enak, teksturnya tebal, mirip dengan telur dadar yang dijual di rumah makan Padang.

Tanpa terasa, seporsi nasi lemak ini telah habis. Ternyata seporsi nasi lemak ini masih terasa kurang banyak untuk mengisi kekosongan perut di pagi hari. Namun sesaat kami teringat pesan Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Akhirnya kami pun menenggak dua gelas air putih sambil mengucapkan alhamdulillah atas nikmat sarapan pagi itu. (mhm/01)