Orang Utan, Mengintip Kehidupannya di Bukit Lawang

BUKIT LAWANG. Sekitar 90 Km arah barat laut kota Medan, tepat di kaki Gunung Leuser, terdapat sebuah obyek wisata yang memungkinkan Anda untuk mengintip kehidupan orang utan di alam bebas. Obyek wisata yang terletak di Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat ini dapat ditempuh selama tiga jam perjalanan dengan mobil dari ibukota Sumatera Utara. Bukit Lawang namanya. Bukit Lawang termasuk dalam lingkup Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan daerah konservasi salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia, orang utan.

orang utan

Hari itu (06/02/2014), Kami tiba di Bukit Lawang sekitar pukul setengah dua belas siang. Untuk bisa masuk ke dalam kawasan konservasi, Kami terlebih dahulu harus membayar izin masuk ke polisi hutan (ranger) atau langsung ke tour guide yang resmi terdaftar. Dengan alasan pelayanan yang lebih maksimal, kami memutuskan untuk meggunakan jasa tour guide dengan membayar Rp 500.000 untuk dua orang. Dengan ditemani dua orang pemandu, Kami pun mulai melakukan trekking ke dalam hutan.

Trekking untuk menemukan dan mengintip kehidupan hewan yang memiliki nama latin Pongo Abelii ini tidaklah mudah. Medannya cukup terjal. Kami kerap naik dan turun bukit sambil memegang erat akar dan batang pohon yang ada di kanan, kiri, depan, bahkan di belakang. Perjuangan Kami semakin berat karena siang itu hujan turun sederas-derasnya. Hari semakin siang, perut mulai keroncongan, dan orang utan masih tetap malu-malu menunjukkan batang hidungnya. Dengan berlindung di bawah dahan-dahan pohon yang disiapkan dadakan oleh kedua pemandu, Kami mengganjal perut dengan menyantap beberapa buah pisang yang sebenarnya disiapkan untuk orang utan.

Yang ditunggu akhirnya muncul juga. Di tengah hujan yang mulai sedikit reda, seekor orang utan muncul dan turun dari atas pohon. Ia mengambil wortel dan pisang yang diumpankan oleh kedua pemandu. Kami dengan antusias mendekat dan mengabadikan momen si orang utan yang dengan lahap sedang menghabiskan wortel dan pisang. Rasa lelah dan lapar seketika sirna dan terlupakan, melihat hewan endemik asli Indonesia tersebut. Di perjalanan pulang, sebenarnya Kami berencana untuk melakukan tubing – semacam arung jeram dengan ban besar – namun karena arus sungai Bohorok terlalu deras, kedua pemandu tidak merekomendasikan kami untuk melakukannya.

Kegiatan trekking menguras stamina dan tenaga, oleh karena itu Kami merekomendasikan Anda untuk menginap satu malam di Bukit Lawang. Selain untuk memulihkan stamina, Anda bisa menikmati berenang dan mandi
di sungai Bohorok yang masih asri.

Tips Trekking di Bukit Lawang:

  • Siapkan sepatu yang nyaman untuk dibawa jalan ke hutan dan medan yang berat.
  • Bawa jas hujan
  • Siapkan lotion anti nyamuk
  • Buat Anda yang hobi memotret, siapkan housing kamera anti air, atau minimal plastik kresek untuk melindungi kamera dari hujan yang bisa tiba-tiba turun
  • Maksimalkan peran pemandu. Jika lelah Anda bisa menitipkan semua barang bawaan ke pemandu mulai dari air minum, gadget, tas, dan lain sebagainya
  • Jangan buang sampah sembarangan