Pengalaman Kuliner di Pulau Dewata


DENPASAR. Bulan lalu, (Desember 2013) kami berkesempatan mengunjungi pulau dewata, Bali. Pulau yang menjadi salah satu andalan pariwisita Indonesia memang menghadirkan banyak gabungan keindahan panorama alam nan indah dan budaya yang begitu kental. Pulau yang luas wilayahnya 0,29% dari luas Indonesia ini juga menghadirkan banyak kuliner yang mampu memanjakan lidah kita.

Selama di Bali, kami tidak cukup puas menikmati sajian kulinernya karena padatnya jadwal setiap hari. Karena kami pergi ke Bali bukan untuk berlibur melainkan bekerja mengakibatkan rutinitas yang sama setiap harinya. Pagi sarapan di hotel, makan siang dan makan malam di tempat bekerja. Meski demikian, kami tetap “mencuri-curi” waktu untuk setidaknya bisa menikmati kuliner khas Bali yang mantap dan tentunya halal.

Sate Padang Jalan Imam Bonjol

Kuliner pertama yang menyita perhatian kami adalah warung sate padang yag berada di Jalan Imam Bonjol, Denpasar. Perjumpaan dengan warung sate padang ini bisa dibilang tidak disengaja. Seorang kenalan yang sudah cukup lama tinggal di Bali (tepatnya di daerah Ubud) yang berasal dari Siantar mengatakan kalau ia sudah lama tidak makan sate padang selama di Bali. Ia rindu akan citarasa sate padang yang biasa ia cicipi di Medan. Ia pernah mendengar kalau ada sebuah warung sate padang yang layak dicoba yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol, Denpasar, namun ia justru tidak tahu lokasinya. Gayung bersambut, karena jalan Imam Bonjol ini adalah rute yang kami lewati setiap harinya selama di Bali, kami pun cukup “aware” kalau disiana memang terdapat warung sate padang yang ramai setiap malamnya.

Penasaran, kami pun langsung mencari warung sate yang dimaksud. Setelah perlahan menyusuri Jalan Imam Bonjol, akhirnya warung yang kami cari berhasil ditemukan. Jika kita dari Jalan Teuku Umar, warung ini terletak di sebelah kiri jalan, sebelum dealer Vespa pertigaan Jalan Pulau Galang. Setelah duduk, pesan, dan mengecap sesendok ketupat, kuah dan satenya, alhamdulillah ternyata insting kuliner kami memang masih layak diandalkan. Sepiring sate padang yang dihargai lima belas ribu perak ini menyajikan ketupat yang padat, kuah sate yang rasa pedasnya pas, daging sate yang empuk dan gurih, serta taburan bawang goreng.

Tidak seperti warung sate padang kebanyakan, disini jenis hanya terdapat sate daging sapi, tidak terdapat jenis sate lainnya seperti usus, lidah, kerang, ayam, dan lainnya. Menariknya, tusuk sate yang dipakai disini dibuat langsung oleh si pemilik warung karena menurutnya di Bali tidak ada yang menjual tusuk sate (padang) yang siap untuk langsung digunakan. Alhasil, malam itu masing-masing dari kami pun sukses menghabiskan dua piring sate padang. Subhanallaaah.

Nasi Pindang – Nasi Gandul

Nasi pindang dan nasi gandul ini masih bersaudara. Keduanya menampilkan nasi putih yang disiram kuah yang aromanya seperti rawon (namun tidak berwarna gelap).

Bedanya nasi pindang menggunakan irisan ayam, sedangkan nasi gandul menggunakan irisan daging sapi. Rasanya cukup segar dan gurih, cocok untuk dinikmati saat malam hari. Nasi pindang yang kami cicipi terletak di Jalan Teuku Umar, Denpasar. Seporsi nasi pindang dan nasi gandul dihargai dua belas ribu perak.

Nasi Jinggo 

Nasi Jinggo adalah panganan khas Bali. Bentuknya mirip dengan nasi kucing, namun lauk yang disediakan cukup berbeda. Lauknya biasa berupa mie goreng, serundeng, dan ayam yang disuwir, telur, hingga daging sapi. Sambal yang terdapat dalam seporsi nasi jinggo juga cukup khas dan memberikan sensasi pedas yang cukup berbeda. nasi jinggo yang kami cicipi selama berada di Bali adalah yang dijual di daerah Seminyak. Disana, seporsi nasi jinggo dihargai lima ribu perak.

Ayam Betutu dan Sambal Matah

Tidak komplit rasanya jika ke Bali, namun tidak menikmati ayam betutu. Ayam betutu bisa kita temukan mulai dari warung pinggir jalan hingga hotel bintang lima. Ayam betutu diolah dari bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, lada hitam dan minyak kelapa. Selanjutnya, ayam dibungkus daun pisang dan diungkep selama beberapa waktu lalu dimasak dalam tungku tradisional. Ayam betutu ini paling nikmat jika disantap dengan sambal matah, sambal khas Bali yang menggunakan kecombrang (kincung) sebagai salah satu bahan utamanya. (mhm/01)