Petani Indonesia Rayakan Hari Tani Nasional 24 September

Petani se-Indonesia setiap tanggal 24 September merayakan Hari Tani Nasional. Penetapan Hari Tani Nasional ini dilakukan oleh Presiden Soekarno tepat 56 tahun lalu, saat disahkannya Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960.

petani Indonesia

Lantas, apa hubungannya petani merayakan Hari Tani Nasional dengan mhm.asia, dengan @makanhalalmedan ? Tentu saja ada korelasinya. Mhm.asia adalah situs resmi @makanhalalmedan yang mengkhususkan kepada artikel tentang kuliner halal di Medan. Kuliner itu terdiri atas makanan dan minuman. Nah, petani memiliki andil sangat besar dalam proses terhidangnya sebuah hidangan di atas meja makan. Petani adalah produsen pangan, bahan baku utama dari hidangan yang setiap hari kita nikmati.

Sebagai produsen pangan, logikanya kaum tani sejahtera karena setiap hari kita makan pangan yang mereka produksi. Faktanya masih banyak petani yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini dibuktikan dari masih rendahnya NTP (Nilai Tukar Petani). Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal September 2016, NTP Tanaman Pangan kembali mengalami penurunan yakni sebesar 0,09 dari angka 98,21 di bulan Juli menjadi 98,12 pada Agustus. Nilai NTP baru bisa dikatakan bagus apabila berada di atas 100.

Jika ingin sejahtera, kaum tani wajib punya tanah. Faktanya tingkat kepemilikan tanah kaum tani di Indonesia hanyalah 0,3 hektar per KK, terutama yang berlokasi di Pulau Jawa. Ini sangat tidak ideal. Oleh karena itu reforma agraria wajib dilaksanakan. Reforma agraria adalah upaya penataan sumber-sumber agraria sehingga menjadi berkeadilan, dimana tidak ada konsentrasi berlebihan dalam penguasaan dan pemanfaatan atas sumber-sumber agraria pada segelintir orang. Reforma agraria diawali dengan melakukan landreform, redistribusi lahan kepada kaum tani tak bertanah, buruh tani. Sangat miris, dimana seorang pengusaha taipan menguasai ratusan ribu bahkan jutaan hektar, sementara seorang petani hanya menguasai 0,3 hektar. Reforma agraria sendiri sudah diatur dan masuk ke dalam Nawacita pemerintahan Jokowi-JK dan dicantumkan dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) 2014 – 2019.

Selanjutnya, masalah yang sering dihadapi kaum tani (kecil) adalah harga produknya yang sangat fluktuatif. Pemerintah memang telah menetapkan HPP (harga pokok pembelian) beberapa komoditas seperti beras. Masalahnya, tidak semua komoditas pertanian memiliki HPP. Hal ini semakin diperparah dengan importasi yang sering dilakukan pemerintah dengan dalih ketersediaan pangan. Impor bawang merah contohnya. Bawang merah yang diproduksi petani lokal tentu saja harganya tidak bisa bersaing dengan bawang merah yang diimpor dari Tiongkok yang harganya jauh lebih murah. Padahal, petani kita punya kemampuan yang tidak kalah hebat dalam hal bertani dan memproduksi produk pertanian. Akibatnya kedaulatan pangan pun tidak tercapai.

Perubahan iklim yang drastis juga sukses menghantam kaum tani. Cuaca yang tidak bisa diduga seperti kemarau ekstrem dan curah hujan yang tiba-tiba tinggi sering membuat tanaman puso, gagal panen.

petani menanam padi di sawah

Lantas? Apa yang bisa kita lakukan sebagai pecinta kuliner untuk membantu mensejahterakan petani? Langkah awal bisa dengan membeli produk petani langsung dari lahannya dengan harga yang pantas. Ini akan memangkas jalur distribusi produknya yang sering jadi menjadi kendala. Jika lokasi lahannya terlalu jauh dari tempat tinggal, bisa diakali dengan membelinya dari koperasi yang langsung dikelola petani.

Berikutnya adalah memaksimalkan mengkonsumsi pangan lokal dan meminimalkan pangan impor. Pangan lokal punya kualitas yang tidak kalah dari pangan impor.

Dengan melakukan hal-hal sederhana di atas, setidaknya kita bisa berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka-mereka yang telah menegakkan kedaulatan pangan di negeri ini. Selamat Hari Tani Nasional  ke-56, sejahtera dan berdaulatlah petani se-Indonesia. Amiiiien.