Secuil Pengalaman di Filipina


MANILA. Minggu lalu (21-25 Oktober 2013), kami berkesempatan untuk mengunjungi Filipina, salah satu negara kepulauan di Asia Tenggara selain Indonesia. Selama lima hari, cukup banyak hal baru yang kami jumpai di negara yang beribukota Manila ini.

Untuk mencapai Filipina, tidak tersedia direct flight (penerbangan langsung) dari Medan. Kita setidaknya harus ganti pesawat sekali, melalui Singapura atau dari Jakarta seperti yang kami lakukan. Penerbangan dari Soekarno-Hatta, Jakarta menuju bandara internasional Ninoy Aquino, Manila ditempuh selama lebih kurang empat jam.

Manila yang merupakan kota nomor dua terbesar di Filipina setelah Quezon City, adalah salah satu dari 16 kota di Filipina yang membentuk Daerah Ibukota Nasional yang disebut dengan Metro Manila yang memiliki populasi sekitar 12 juta jiwa. Cuaca di Metro Manila sedikit lebih “adem” daripada di Jakarta atau Medan.

Untuk urusan transportasi, Metro Manila lebih “modern” dibandingkan Jakarta atau Medan, karena mereka sudah memiliki MRT yang mirip dengan MRT yang ada di Bangkok. Selain itu Metro Manila juga memiliki transportasi umum yang sangat khas yang dikenal dengan nama jeepney. Bentuknya mirip dengan angkot yang ada film Si Doel Anak Sekolahan namun lebih panjang dan cukup terawat.

Metro Manila juga memiliki moda transportasi yang sangat mirip dengan Medan. Namanya Tricycle, bentuknya sangat mirip dengan becak mesin di Medan. Bedanya, dalam satu tricycle boleh ada beberapa penumpang dengan tempat pemberhentian berbeda, namun masih berada dalam satu tujuan yang sama.

Masyarakat Filipina umumnya menggunakan bahasa Tagalog sebagai bahasa resmi percakapan. Namun bahasa Inggris juga merupakan bahasa resmi dari negara yang pernah dijajah Spanyol dan Amerika Serikat ini. Menariknya banyak kata-kata dari bahasa Tagalog yang memiliki arti dan pengucapan yang sama dengan bahasa Indonesia, contohnya: kanan, lima, dan lainnya. Filipina menggunakan Peso sebagai mata uangnya, satu Peso senilai dua ratusan Rupiah.

Kuliner (Halal) di Metro Manila

Jumlah masyarakat muslim di Filpina cukup kecil, yakni sekitar lima hingga sepuluh persen dari total populasinya. Itu pun mayoritas dari mereka tinggal di pulau Mindanao, Palawan, dan Sulu; bukan di pulau Luzhon dimana Metro Manila berada. Akibatnya mayoritas rumah makan disini menyajikan masakan non-halal.

Sementara itu, perjalanan kami ke Filipina ini bukanlah dalam rangka liburan, melainkan perjalanan kerja. Akibatnya semua gerak-gerik kami sudah terjadwal rapi dan padat. Selama di Filipina kami menginap di sebuah hotel di Quezon City. Setiap pagi, kami dijemput mini bus untuk “mengunjungi” suatu komunitas di sebuah kota, dan kembali ke hotel tempat menginap pada pukul sembilan malam. Alhasil eksplorasi kuliner Filipina tergantung dari kemana panitia lokal membawa kami.

Karena waktu yang mepet, selama di Metro Manila, kami lebih sering sarapan di Jollibee, sebuah restoran fast food khas Filipina. Restoran ini sebenarnya tidak dikategorikan ke dalam restoran halal, karena mereka menyajikan sajian yang non-halal. Disini kami hanya memesan kentang goreng dan pancake yang tempat masaknya terpisah dari tempat masak makanan non halal tersebut. Ditemani dengan kopi hangat atau air mineral, terkadang kami juga membawa roti tawar dan telur rebus (yang sebelumnya kami minta buatkan kepada teman Filipina) untuk disantap bersama kentang goreng dan pancake tersebut.

Tips mencari sarapan halal seperti di Bangkok dengan mencari makanan halal beku di minimart terdekat tidak bisa diterapkan disini. Soalnya minimart seperti seven eleven di Metro Manila ini sama sekali tidak menjual makanan beku. Namun sama seperti Bangkok dan Phuket, di Metro Manila juga terdapat beberapa restoran timur tengah dan India yang menyajikan sajian kuliner halal yang enak dan cocok di lidah kita. Kita bisa melacak lokasinya melalui internet.

Disinilah untuk pertama kalinya kami menikmati nasi Basmanti, di sebuah restoran Iran di Quezon City. Nasi Basmanti adalah seJenis nasi yang diimpor langsung dari Pakistan dan India yang memiliki tekstur lebih kering, lebih tipis, dan lebih panjang dari nasi biasa. Nasi basmanti ini disajikan dengan salad dan daging ayam panggang dilengkap dengan saus bawang putih.

Sajian seafood juga bisa menjadi alternatif. Kami berhasil menemukan sebuah restoran seafood halal lezat yang terletak di SM City Noth Edsa (sebuah pusat perbelanjaan di Quezon City). Nama restorannya adalah Sizzling Seafood yang letaknya di LGF foodcourt SM City North Edsa. Disini kami menikmati sajian lezat yang diberi nama boneless bangus, ikan laut yang dibuang tulangnya lalu digoreng dan disiram saus dan kuah spesial dan disajikan panas-panas di atas hot plate.

Kami juga sempat menikmati “puto“, kue khas Filipina. Kue ini terbuat dari tepung beras dengan toping kelapa dan bentuknya mirip dengan kue bolu. Rasanya tidak terlalu manis namun enak dan pas di lidah.

Masakan rumahan yang juga boleh dicoba adalah tinapa, yang merupakan sajian ikan yang diasap. Rasanya segar dan lezat. Filipina memang kaya akan hasil laut karena merupakan negara kepulauan yang terdiri dari lebih 7.107 pulau.

Di pesawat perjalanan pulang menuju tanah air, dengan ditemani lagu dari sebuahband keren Filipina, Rivermaya – You’ll Be Safe Here, kami menyimpulkan berdasarkan pengalaman di Filipina kali ini kalau Indonesia adalah negara yang sangat nyaman bagi penduduk muslim. Alhamdulillaaah. (mhm/01)