Seru & Kreatif! Wisata Kampung Tematik di Malang, Jawa Timur

MALANG. Selain menikmati megahnya Gunung Bromo, di Jawa Timur, kami juga berwisata di kota Malang. Teman yang berasal dari komunitas fotografi di Malang — Walking in Ngalam (WiN) — menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. Alhamdulillaah.

Ketika kami bertanya kepada teman-teman dari WiN, mengenai obyek wisata yang harus didatangi di Malang, mereka menyarankan kami untuk mengunjungi kampung-kampung tematik di kota ini, Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ), Kampung Tridi dan Kampung Biru – Arema. Alasannya adalah karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota dan inovasi kampung-kampung ini mampu meningkatkan ekonomi warganya.

Kampung Warna-Warni Jodipan, Malang

Minggu pagi, setelah sarapan, teman dari WiN menemani kami ke dua tempat wisata ini. KWJ adalah tujuan kami yang pertama. Saat perjalanan kami menuju Malang dengan menggunakan kereta api, kampung warna-warni ini sudah terlihat ketika akan masuk ke kota Malang. Saat itu hati kami membatin bahwa kampung ini wajib didatangi.

KWJ sendiri berada di tepi Sungai Brantas, tepatnya di RT 06, 07, dan 09, RW 02, Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Kata Iqbal, salah satu teman dari WiN, kampung ini dulunya termasuk kampung kumuh di Malang.

Muhammad Iqbal (tengah pakai topi), teman dari komunitas Walking in Ngalam yang menemani kami selama di Malang

“Kampung ini diresmikan tahun 2016 oleh walikota Malang, Abah Anton. Yang menggagasnya para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dari kampusnya. Mereka ini lalu mempertemukan warga dan perusahaan cat untuk memoles kampungnya menjadi lebih menarik,” kata Iqbal.

Iqbal melanjutkan, selain mengecat seluruh rumah warga dengan cat warna-warni, warga pun sepakat untuk menjaga kebersihan dan membersihkan sampah-sampah yang selama ini menjadi masalah. Alhasil kampung ini pun menjelma menjadi kampung warna-warni paling eksis se-Indonesia.

Surga Selfie

Setelah membayar Rp 3.000 sebagai biaya retribusi masuk, Kami pun langsung sumringah begitu masuk ke kampung ini. Dimana-mana penuh spot selfie menarik yang memanggil-manggil setiap pengunjung untuk melakukan selfie alias swafoto. Benar-benar surga selfie di Malang. Hahahaha.

Salah satu instalasi kreatif yang menampilkan kesenian nasional, wayang, yang dipajang di KWJ

Setelah puas mengabadikan foto, kami berjalan ke bawah, ke arah Sungai Brantas. Bersih! Itulah kesan pertama kami ketika sampai ke pinggiran sungainya. Di pinggiran sungai pun tak kalah banyak yang melakukan selfie. Tua, muda, semuanya seolah rugi jika tidak berfoto. Rumah-rumah warna-warni di bantaran sungai plus lukisan mural di dinding-dindingnya dijadikan salah satu background andalan ketika melakukan selfie. Hasrat dan tren kekinian dimana setiap orang butuh aktualitas, butuh eksistensi di sosial media sukses membuat kampung ini viral. Dahsyat!

Pedagang kaki lima yang ditata rapi di KWJ

Iqbal menerangkan, setiap warga di KWJ ini sudah sangat menyadari dampak positif dari transformasi kampungnya. Oleh karena itu setiap warganya sama-sama berusaha menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan para pelancong — baik lokal atau luar negeri — yang datang.

“Di sini semuanya tertib, mulai dari pedagang dari pedagang kaki limanya, hingga warganya yang selalu ramah tersenyum kepada semua pelancong. Soalnya semua warga udah sangat terbantu ekonominya dari kedatangan para pelancong. Penjualan souvenir, retribusi, makanan-minuman cukup membantu biaya hidup mereka sehari,” papar Iqbal.

Seorang perempuan melakukan selfie di pinggiran Sungai Brantas

“Aku juga udah pernah lomba foto, background-nya pakai suasana di sini,” lanjut Iqbal sumringah, sambil menunjukkan spot pengambilan foto yang membuatnya memenangi lomba fotografi di instagram.

Jembatan Kaca

Di atas sungai Brantas, kami melihat sebuah jembatan kaca yang ramai dilalui banyak orang. Setelah bertanya kepada Iqbal, jembatan tersebut adalah penghubung antara KWJ dengan Kampung Tridi. Jembatan ini sendiri panjangnya 25 meter, lebar 1,25 meter, dengan tinggi 9,5 meter. Jembatan berwarna kuning keemasan ini sendiri berlantaikan kaca tebal di tengah-tengahnya, dan mampu menampung maksimal sekitar 50 orang dengan beban berat 250 Kg. Saat kami melintas, jujur, agak gugup juga awalnya, tapi lumayan seru. Hahaha. Kalau sedang pas momennya, kita bisa melihat kereta api yang melintasi KWJ.

Seorang suami mengabadikan momen istri dan anaknya ketika berada di atas jembatan kaca yang menghubungkan KWJ dengan Kampung Tridi

Di ujung jembatan, Kampung Tridi sudah menunggu untuk dijelajahi. Tridi sendiri berasal dari pengucapan 3D (three dimension) dari bahasa Inggris. Beragam lukisan yang dicat di dinding rumah-rumah warga engan konsep tiga dimensi tentu saja memanjakan para penggemar selfie.

Salah satu mural 3D di Kampung Tridi

Pamor Kampung Tridi makin terkenal, ketika dijadikan tempat pengambilan syuting salah satu film layar lebar nasional bergenre komedi percintaan, Yo Wis Ben. Apik tenaaan!

Salah satu mural 3D di rumah penduduk di Kampung Tridi

Serba Biru

Setelah puas selfie dan berburu foto di KWJ dan Kampung Tridi, Iqbal mengajak kami ke Kampung Biru – Arema. Lokasinya tepat di sisi lain Sungai Brantas, cukup menyeberangi jalan besar. Biaya masuk kemari Rp 2.500 per orangnya. Kampung ini sendiri baru diresmikan akhir 2017 yang lalu.

Biru adalah warna yang identik dengan klub sepakbola kebanggaan kera-kera Ngalam (baca: arek-arek Malang, keunikan lain di Malang adalah seringnya warganya menggunakan bahasa walikan, bahasa terbalik). Atas dasar inilah para warga mengecat semua unsur rumahnya, mulai dari atap hingga dinding dengan warna biru. Tanpa terburu-buru, kami pun kembali mencari spot-spot lucu untuk dijadikan background selfie.

Seorang wisatawan melakukan selfie dengan latar belakang Kampung Biru

Matahari semakin tinggi, namun anak-anak berbaju biru Arema Malang masih semangat bermain sepakbola di gang-gang kecil di Kampung Biru ini. Sambil dibayang-bayangi perut yang mulai keroncongan, kami terfikir, kenapa di Medan, di kota kelahiran tercinta, wisata kampung tematik yang kreatif ini belum bisa dikembangkan. Padahal sudah nyata-nyata terbukti berkontribusi terhadap meningkatnya taraf hidup warganya.

Suasana di dalam Kampung Biru, Malang

Saat sedang asyik-asyiknya berdiskusi, Iqbal memanggil kami, dan mengajak kami ke tempat wisata berikutnya, yang tidak kalah penting: wisata kuliner di Malang. Hahahaha. Berangkat! Sampai ketemu lagi KWJ, Kampung Tridi, dan Kampung Biru – Arema.