Permata Yang Tak Kenal Lelah Berusaha: Supriyadi

MEDAN. Adi Permata panggilannya. Usianya 48 tahun dan sudah punya 3 orang anak. Sudah 20 tahun lebih berkutat di bisnis kuliner sampai akhirnya memiliki 3 cabang rumah makan yang sudah tersohor namanya dan terbukti kualitasnya. Hobinya masih seputaran kuliner dan memberi banyak manfaat pada orang lain. Berikut ini makanhalalmedan merangkum kisahnya dalam beberapa paragraf yang menginspirasi.

Hari itu cukup mendung namun suasananya sangat gerah. Awan menutupi langit seperti selimut putih tebal, tidak kelihatan sedikitpun warna kebiruan yang menenangkan. Cuaca yang sudah biasa di Kota kami tercinta, Medan. Tapi tidak menyurutkan semangat kami karena seorang pengusaha sukses telah bersedia berbagi kisah sukses dan inspiratifnya. Sebelum ini, dia mengaku tidak suka berbicara di depan publik dan lebih suka mengirimkan wakilnya jika ada acara atau wawancara dari media.

adi permata _ mhm asia

Supriadi namanya, namun beliau lebih dikenal dengan panggilan Adi Permata. Kesibukannya sehari-hari adalah memberi manfaat dan mengurus bisnisnya. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Tangan Di Atas (TDA) wilayah Sumbagut (Sumut dan Sumbar) periode 2017-2019 dan aktif di komunitas One Day One Juz, Pejuang Shubuh dan Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia.

Beliau merintis usahanya sudah sejak kecil. Ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, mereka sekeluarga membuka usaha Sate Kerang dan menjadi titik balik kebangkitan ekonomi keluarga mereka kembali. Adi Permata kecil giat membantu orangtuanya berjualan sepulang sekolahnya, menjual sate kerang, kue-kue, sampai membuka warung pecal kaki lima di depan trotoar Medan Plaza. Sampai-sampai pada masa itu, warung Mie Pecal Adi ini sempat dijuluki ‘Malioboronya Medan’

“Saat jual pecal, ada keunikan. Waktu itu sekolah SMEA, saya jual pecalnya malam-malam di emperan Medan Plaza, kaki lima. Sempat disebut Malioboronya Medan. Jam 8 sampai dengan jam 9 malam, tamu sudah menunggu warung pecal buka. Jadi saya buka warung sudah ada yang menunggu,” cerita Pak Adi dengan senyum cerianya. Kalau kamu pernah makan Mie Pecal Adi di Jalan Orion samping Medan Plaza dulu, nah itulah salah satu outlet milik Adi Permata yang kini sudah dijalankan oleh adiknya.

Tapi kisah suksesnya tidak berhenti sampai di sana. Pada tahun 1991, beliau mengembangkan usahanya dengan membuka Rumah Makan pertamanya di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan Medan. Rumah Makan ini dikenal dengan Rumah Makan Permata, dan dari sinilah beliau lebih dikenal dengan nama Adi Permata. Suka dan duka dijalani sampai beliau berhasil membuka 3 cabang Rumah Makannya yang lokasinya ada di Jln. Iskandar Muda No. 224 Medan, dan di Jln. Langkat Simpang Bengkalis No. 1 Medan.

“Sekecil apapun ukuran permata, tetap tinggi nilainya”. Itulah alasan Pak Adi Permata menamakan Rumah Makannya yang sudah berdiri lebih dari 20 tahun ini.

“Tugas kita ikhtiar dan berdoa, sisanya serahkan kepada Allah. Apa yang saya lakukan adalah untuk keluarga, Allah tidak pernah tidur. Allah memberikan saya kemudahan,” ucap Pak Adi dengan penuh keyakinan. Beliau juga pernah diberikan kepercayaan untuk menangani katering para karyawan pabrik, perhari bisa mencapai 4000 porsi.

Bisnis itu banyak definisinya, banyak pilihannya dan banyak jalannya. Namun dalam perjalanannya, ada dua kata yang tak pernah lepas darinya, yaitu kesabaran dan kerja keras. Tanpa dibekali dua hal tersebut, siap-siap untuk menerima kenyataan terburuk. Perumpamaannya seperti prajurit yang pergi berperang tanpa membawa senjata.

Pak Adi sempat berpesan pada Makanhalalmedan tentang hal yang penting dalam sebuah bisnis,

“Orang bilang usaha itu gampang? Ya gampang. Tapi dibilang sulit? Ya sulit juga. Artinya, kalau mau gampang, jalankan usaha sesuai dengan hobimu. Usaha butuh pengorbanan, contohnya waktu. Biasanya kalau kita melakukan hobi, kita bisa lupa waktu. Kita tidak mengeluh dan terus maju. Itu yang menjadikan sebagian orang gagal menjalankan usaha karena tidak sesuai dengan hobinya. Kedua, usaha yang berdasar hobi, setiap permasalahan yang datang akan dijadikan tantangan bukan beban. Ketiga, bagi pengusaha pemula dan modal kecil, jalani sesuai dengan hobi dan penuh kesabaran,” ungkap Pak Adi

Target beliau ke depannya adalah ingin menjadikan Rumah Makan Permata ada di seluruh Nusantara. Omsetnya? Pak Adi mengaku lupa dengan omsetnya bahkan sampai menelepon timnya, beliau hanya ingat pajaknya saja sebesar 6 juta perbulannya.

Sampai hari ini, Pak Adi Permata masih terus mengembangkan bisnisnya dan memberikan manfaat kepada orang banyak. Bersama rekannya, beliau juga membuka Rumah Makan Kampung Deli yang sekarang menjadi Markas TDA (Tangan Di Atas) dan tempat berkumpulnya banyak komunitas. Pak Adi juga mengembangkan bisnis dimsumnya dengan nama Medan Dimsum, beliau berharap dengan adanya Medan Dimsum, terbukanya lapangan pekerjaan baru dengan menjadi reseller dimsum buatannya.

Masih banyak sekali yang akan disampaikan Pak Adi kepada kami di hari itu. Namun Pak Adi harus mengakhiri ceritanya tepat saat adzan maghrib berkumandang dan berhalangan untuk melanjutkan setelahnya. Beliau telah membuat janji dengan anak-anaknya dan memberikan pesan terakhirnya pada kami,

“Jangan pernah lupakan keluarga, selalu luangkan waktu untuk mereka di sela kesibukan kita,” tutupnya. (mhm/02)

Rumah Makan Permata:
– Jl. Jamin Ginting, Padang Bulan No. 259 A
– Jl. Iskandar Muda No. 224
– Jl. Langkat Simpang Bengkalis No. 1 Medan.

Kampung Deli: Jl. Kapten Muslim No. 75.