Sushi, Titik Kritis Halal dan Haramnya

MEDAN. Sushi adalah kuliner khas Jepang. Hidangan ini biasanya terdiri atas olahan nasi bersama dengan lauk mentah atau dimasak, bisa berupa beragam hidangan laut, hingga beragam sayuran, atau kombinasinya.

Sebagai seorang muslim, kita wajib kritis atas suatu makanan, karena Allah SWT mewajibkan kita mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal. Hal ini pun berlaku kepada suhi.

Sebelum bicara lebih jauh, silahkan simak beberapa firman Allah SWT dalam Alqur’an berikut:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS – Alqur’an Surrah, Al-baqarah 168).

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-baqarah 172)

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS Al-baqarah 173).

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat-ayat di atas cukup menjelaskan kewajiban seorang muslim untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.

Kembali lagi ke sushi, Invasi kuliner khas Jepang ini ke Indonesia masif terjadi bersamaan dengan semakin mudahnya akses informasi dan teknologi di zaman global ini. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya restoran yang mengklaim menyajikan sajian otentik khas Jepang seperti sushi, mulai dari yang mahalan hingga yang versi rumahan. Namun satu hal yang cukup menggelitik adalah, apakah sushi halal atau haram ?

sushi

Kredit : Wikipedia

Sushi khas Jepang sendiri idealnya mengandung mirin. Mirin sendiri adalah bumbu dapur yang biasa digunakan dalam masakan khas Jepang. Mirin adalah minuman beralkohol berwarna kuning, dengan rasa manis, mengandung gula sebanyak 40% – 50% dan kandungan alkohol sekitar 14 %. Mirin ini sendiri digunakan pada masakan Jepang yang diolah dengan cara nimono (merebus dengan kecap asin), dipakai sebagai campuran untuk berbagai macam saus, seperti saus untuk kabayaki (tare), saus untuk soba (soba-tsuyu), saus untuk tempura, hingga saus teriyaki. Selain itu kandungan alkohol pada mirin dipercaya mampu menghilangkan rasa amis pada ikan – yang banyak digunakan dalam sushi — dan mengurangi risiko hancur bahan makanan yang dimasak. Mirin juga bisa digunakan untuk menambah rasa manis bahan makanan yang dimasak, membuat mengkilat bahan makanan yang dimasak secara teriyaki, serta menambah harum masakan.

Jadi jika sebuah restoran mengklaim kalau mereka menyajikan hidangan otentik khas Jepang, dan mereka menyajikan sushi, bisa dipastikan sushinya memakai mirin. Analoginya adalah mirin mengandung alkohol, alkohol diharamkan (QS Al-Maidah: 90), sushi menggunakan mirin jadinya haram. Habis perkara.

Beberapa waktu lalu, redaksi mhm.asia pernah berdiskusi langsung dengan pengelola salah satu restoran lokal di Medan yang mengkhususkan kepada kuliner khas Jepang seperti sushi. Ia mengakui kalau sushi yang diolah oleh kokinya memang menggunakan mirin.

“Iya, kami pakai mirin untuk membuat beras-beras sushi jadi lebih merekat, tidak mudah tercerai. Selain itu kalau pakai mirin memang khas Jepangnya itu dapat. Kalau sushi kami tidak pakai mirin rasanya ada yang kurang pas. Pernah kami coba ganti dengan bahan yang lain, tetapi rasanya tetap tidak dapat,” papar si pengelola yang restorannya berlokasi di sekitaran Komplek Multatuli ini.

Meski demikian, ia meyakinkan kami kalau ia tidak menggunakan mirin pada semua hidangan yang dijualnya.

“Kalau ramen kami tidak ada yang pakai mirin. Saya berani jamin. Kita cuma pakai kaldu blok untuk penguat rasa,” katanya berusaha meyakinkan.

Sedangkan untuk shoyu (kecap Jepang) yang digunakan di restorannya, ia juga menyampaikan kalau komposisinya murni kecap, tidak ada dicampur dengan mirin.

Kredit : Wikipedia

Kredit : Wikipedia

Lantas, apakah ada sushi ada yang halal ? Pasti ada. Titik kritisnya adalah di penggunaan mirin tersebut, jadi apabila si penjual sama sekali tidak menggunakan mirin (dan tentunya bahan-bahan non halal lainnya) insya Allah sushi yang dijualnya halal. Berdasarkan penelusuran redaksi, ada beberapa penjual sushi homemade (usaha rumahan) yang mengklaim menjual sushi halal, tanpa mirin, dan bahan-bahan non halal lainnya. Namun redaksi belum menemukan usaha sushi rumahan atau restoran di Medan yang sudah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Jadi ketika anda berkunjung ke sebuah restoran khas Jepang (ataupun restoran yang anda masih ragu status halal tidaknya hidangannya), sebagai konsumen muslim yang cerdas, jangan ragu untuk bertanya kepada pihak restoran – baik itu pelayan, koki, manajer, atau langsung pemiliknya – mengenai status halal makanan minuman yang dijual.

Semoga sebagai muslim kita semua semakin cerdas dan kritis dalam memilih dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal. Amiiien.