Tip Top, Legenda Kuliner Kota Medan

MEDAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) legenda berarti cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Legenda sendiri berasal dari bahasa latin “legere” yang berarti cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.

Nah, jika kita membahas legenda tentang kuliner di kota Medan, restoran Tip Top adalah jawabannya. Kami sebagai warga Medan yang bijak, rajin membayar pajak, gemar beribadah, dan pastinya senang menabung merasa durhaka tidak membahas restoran kebanggaan ibukota Sumatera Utara ini.

Alkisah, restoran ini berdiri pada tahun 1929 di Jalan Pandu Medan dengan nama Jangkie, sesuai nama pemiliknya. Lima tahun kemudian, restoran ini pindah ke daerah Kesawan yang sejak dahulu merupakan pusat bisnis di kota Medan, dan berganti nama menjadi Tip Top (yang berarti “sempurna”). Pada zamannya, Banyak kantor pemerintah dan kantor perusahaan asing yang berlokasi di sini. Orang Belanda yang bekerja di perkebunan atau kantor pemerintah biasanya datang untuk makan pagi atau menikmati  kopi pada sore hari. Mereka sangat menyukai kopi robusta Sidikalang yang beraroma harum dari dapur Tip Top. Setelah kemerdekaan Indonesia, Tip-Top menjadi populer di kalangan penduduk lokal, terutama kelas menengah dan atas. Tua, muda, remaja menjadikan restoran ini pilihannya  khususnya di akhir pekan.

Begitulah sedikit sejarah dari restoran yang beralamat lengkap di Jalan Ahmad Yani No. 92 Medan. Kini mari kita bahas tentang citarasa restoran ini berdasarkan naluri lidahiah kami.

Sore itu (10/09) Medan kembali diguyur hujan. Setelah memarkirkan kendaraan kami, kami pun langsung masuk ke restoran ini. Kami pun memilih kursi yang tidak begitu masuk ke dalam restoran dan dekat ke pinggir jalan, agar bisa menikmati suasana basah kota Medan di sore hari. Ini pastinya bukan kunjungan pertama ke Tip Top, karena kami lahir dan dibesarkan di Medan tercinta ini. Jadinya suasana Tip Top yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur Belanda ini terasa cukup akrab bagi kami. Karena hujan terus turun, kami pun berinisiatif untuk pesan yang hangat-hangat, dan pesanan pertama adalah sup jagung kepiting. Seporsi sup ini pastilah tidak mampu meredakan rasa lapar di perut, kami pun pesan nasi goreng Tip Top spesial, ifumie goreng. Tidak lengkap rasanya kalau ke Tip Top tanpa menikmati es krimnya, oleh karena itu kami pun pesan es krim moorkop.

Tak lama berselang, datanglah pelayan dengan troli kecil membawa pesanan kami, terkecuali es krim yang akan kami nikmati sebagai hidangan penutup. Setelah semua menu terhidang di atas meja, kami pun langsung menyantapnya, setelah membaca doa sebelum makan. Allahumma Baariklana fiima rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar.

Hap! Sup jagung kepiting yang dihidangkan di atas mangkok berwarna merah berhasil menghangatkan sore yang dingin itu. Rasa jagung dan daging kepitingnya saling melengkapi satu sama lain. Karena suka pedas, kami pun menambahkan potongan cabe rawit yang tersedia sebagai acar di nasi goreng ke dalam sup ini. Mantaaaaaap. Tak sampai lima menit, sup ini pun tuntas kami selesaikan.

Selanjutnya adalah waktu untuk menikmati nasi goreng Tip Top Spesial. Menu ini terdiri dari nasi goreng, telur mata sapi, tiga potong ayam panggang, acar, selada, tomat, dan kerupuk. Citarasa nasi gorengnya yang khas cukup enak dinikmati, begitu pula rasa ayam panggangnya. Rasa yang tidak jauh berbeda juga diterapkan di ifumie gorengnya.

Kini saatnya menikmati es krim moorkop, salah satu menu es krim yang jadi sajian khas di Tip Top. Moorkop disajikan di atas sebuah piring kecil lengkap dengan sendoknya. Di bagian dasar es krim terdapat roti, selanjutnya satu scoop es krim vanilla, dan roti yang dilumuri coklat cair yang meleleh. Es krim yang resepnya asli dari Belanda ini berhasil membuat Medan yang sore itu sudah dingin menjadi lebih dingin (but in a good way). Paduan es krim vanilla, coklat, dan citarasa roti yang cukup khas bersatu padu menghasilkan kenikmatan yang luar biasa.

Untuk harga seporsi sup jagung kepiting dihargai tujuh belas ribu perak; nasi goreng Tip Top spesial seharga tiga puluh tiga ribu perak; ifumie goreng seharga dua puluh tiga ribu perak; dan es krim moorkop seharga enam belas ribu perak. Harga ini cukup terjangkau.

Jika kemari, menu lainnya yang cukup patut untuk dicoba adalah bistiknya yang cukup melegenda. Es krim java yang menawarkan cita rasa mocca otentik juga boleh dicoba. Tip top juga terkenal dengan kue-kue olahannya sendiri yang dibakar menggunakan tungku kayu bakar zaman Belanda sejak tahun 1934. Tungku ini menggunakan kayu bakar berkualitas baik sehingga menghasilkan kue dengan aroma yang harum dan cita rasa yang enak.

Secara keseluruhan, restoran Tip Top yang juga merupakan salah satu restoran tertua di Indonesia ini patut kita jaga eksistensinya. Di sisi lain, pihak Tip Top juga harus meningkatkan kualitas pelayanan dan keramahan terhadap pelanggan yang datang. Semoga nantinya cucu-cucu kami pun bisa menikmati sajian kuliner disini. Amiiien. (mhm/01)