Too Good To Go, Aplikasi Anti Mubazir

aplikasi too good to go

MHM.ASIA. “Dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.  (QS.Al-Israa’ : 26-27). Ayat Alqur’an ini adalah panduan hidup yang mengajarkan kita umat Muslim agar tidak berperilaku boros, dan mubazir.

Mubazir dan boros ini juga berlaku bagi bisnis restoran. Tidak jarang, banyak sekali makanan yang terbuang percuma dari sebuah restoran. Selain dilarang secara agama, sisa makanan juga menambah persoalan dunia. Limbah sisa makanan (restoran) menyebabkan emisi karbondioksida yang buruk bagi lingkungan.

Melihat hal ini, sekumpulan pria dan wanita asal Denmark menciptakan aplikasi “too good to go” di tahun 2015. Mereka adalah Chris Wilson, Jamie Crumie, Cansu Oral, dan lainnya. Aplikasi yang tersedia di google play store dan itunes  ini memfasilitasi siapapun yang ingin membeli makanan sisa restoran (yang masih sangat layak makan) dengan potongan harga yang tinggi.

Too Good To Go menjadi solusi bagi dua belah pihak, bagi restoran yang tidak ingin sisa makanannya banyak terbuang, dan bagi konsumen yang bisa mendapatkan makanan restoran yang lezat dengan harga yang jauh lebih murah,” kata Chris Wilson.

“Harga makanannya sekitar 2 poundsterling, dan paling mahal 3,8 poundsterling (sekitar Rp 39.000 – Rp 65.000, red),” kata Chris seperti dikutip di situs resminya di http://toogoodtogo.co.uk/about/.

tampilan aplikasi too good to go

Tampilan salah satu restoran yang terintegrasi dengan aplikasi “Too Good To Go”

Untuk bisa mendapatkan makanan sisa restoran via aplikasi ini, sebelumnya pembeli harus mendaftar untuk mengambil pesanannya di jam tertentu yang sudah dijadwalkan (biasanya 1 jam sebelum restoran tutup). Hal yang harus diingat adalah para pembeli tidak bisa memilih menu makanannya, karena pihak restoranlah yang menentukannya.

Selain itu, Too Good To Go menginisiatifi pembuatan kemasan take away ramah lingkungan bagi para restoran yang bergabung di aplikasi ini. Menariknya lagi, aplikasi ini juga menyediakan fitur yang memfasilitasi mereka yang ingin mendonasikan makanannya kepada yang (lebih) membutuhkan.

Sejak diluncurkan di akhir tahun 2015, pengembang aplikasi ini mengklaim telah berperan membantu mengurangi lebih dari 200 ton emisi karbon yang ditimbulkan akibat sampah sisa makanan.

Sayangnya aplikasi ini masih tersedia di Denmark, Skandinavia, hingga beberapa kota di Inggris. Jadi sepertinya kita yang berdomisili di Medan masih harus menunggu ketersediaan aplikasi ini di kota kita. Atau mungkin ada pengembang lokal yang berminat mengembangkan aplikasi serupa? Silahkan.