Update MUI Pusat Soal Restoran Solaria: Halal Sesuai Fatwa Sebelumnya

MEDAN. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat akhirnya mengeluarkan keputusannya mengenai gonjang-ganjing kandungan babi yang terkandung dalam salah satu bumbu di Restoran Solaria, Balikpapan (baca: Ada Babi di Solaria?).

Dalam keterangan di situs resminya halalmui.org, hari ini, Jum’at, 26 November 2015, MUI menerangkan bahwa status kehalalan Restoran Solaria sesuai dengan fatwa MUI sebelumnya.

Dalam situs tersebut tertulis, inspeksi mendadak (sidak) Tim Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan kota Balikpapan, pada 23 November 2015 dilakukan dengan metode Uji Cepat (Rapid Test). Sedangkan penggunaan metode Uji Cepat (Rapid Test) hanya digunakan untuk menguji kandungan protein babi secara cepat. Oleh karena itu, Uji Cepat (Rapid Test) merupakan sarana pemeriksaan (screening) awal terhadap objek uji dan bukan merupakan kesimpulan akhir.

“Hasil dari uji yang menggunakan Uji Cepat (Rapid test) memerlukan uji lanjutan untuk memastikan ada tidaknya kandungan DNA babi pada objek yang diuji, dengan menggunakan PCR. Dalam melakukan Uji cepat (Rapid test) LPPOM MUI terlebih dahulu melakukan validasi metode. Validasi adalah pembuktian ketepatan metode untuk menguji kandungan bahan tertentu, karena ada kemungkinan terjadinya kesalahan positif (false positive),” lanjut keterangan tersebut lagi.
“Sesuai dengan SOP analisis laboratorium Halal LPPOM MUI serta untuk menghindari kesalahan positif, maka LPPOM MUI melakukan uji lanjutan dengan menggunakan metode PCR. Terkait dengan Restoran Solaria, LPPOM MUI telah mengambil sampel dari berbagai Outlet restoran Solaria, baik yang berada di Jabodetabek maupun dari Kalimantan Timur untuk dilakukan uji menggunakan metode PCR.”
“Hasil dari uji PCR menunjukkan bahwa semua sampel uji tidak terdeteksi DNA Babi,” tambah keterangan di website resmi MUI yang diketahui oleh Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim.