Wirausaha: Syaiful Burhan & Jatuh Bangunnya Molen Arab

MEDAN. “Kalau saya malu, bagaimana saya bisa hidup?” Itulah sepenggal kalimat yang menjadi penyemangat Syaiful Burhan, dalam memulai wirausaha molen arab. Pada tahun 2013, Syaiful Burhan, seorang mahasiswa semester 6 Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara (USU) telah sampai kepada persimpangan hidup yang mengharuskannya memilih untuk mencari penghasilan sendiri.

“Pilihannya adalah cari duit sendiri atau saya berhenti kuliah,” kata Burhan.

Saat itu, orang tua Burhan yang menetap di Jayapura, Irian, sedang memasuki fase sulit dalam ekonomi. Akhirnya, bermodalkan biaya untuk bayar kos, pria yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah ini akhirnya memutuskan untuk melakukan wirausaha, berjualan molen arab. Molen dipilih sebagai produk yang dijual karena Burhan sendiri sangat menyukai molen, dan sebelumnya ia pernah juga berjualan risol, bakwan, dan sebagainya, namun selalu gagal.

Syaiful Burhan, wirausaha molen arab

Syaiful Burhan, pemilik Molen Arab

“Jujur, awalnya saya minder berjualan, tapi mau gimana lagi karena gak ada pilihan lain lain. Taruhannya kalau dalam sebulan modal gak kembali saya gak bisa bayar kos, kalau itu yang terjadi saya sudah punya plan B, jadi marbot di mesjid,” paparnya.

Berbekal tekad untuk lepas dari keterpurukan ekonomi, Burhan pun mulai mencari resep yang tepat untuk membuat molen arab yang enak. Ia pun mencari resepnya di internet dan kemudian menerapkannya.

“Untuk adonannya saja setidaknya ada tujuh kali trial and error, berganti setidaknya tiga hari sekali, ada yang bilang terlalu asin, terlalu manis. Setelah tiga bulan berjalan baru saya dapat resep yang pas,” katanya lagi.

Nama “Molen Arab” pun diambil sebagai merek sebagai pembeda produknya dari yang lain, dan mulai dipasarkan tepat pada 27 April 2013. Uniknya meskipun namanya molen arab, ternyata pisang yang digunakan adalah pisang barangan yang asli Sumatera Utara.

Saya juga ingin mempromosikan pisang lokal, pisang barangan yang asli sini. Saya ambil pisang langsung dari petaninya dari sekitar daerah Tuntungan dan Pancur Batu,” lanjutnya.

Asal usul memberi nama produknya “Molen Arab” adalah karena Burhan ingin menyajikan pisang molen yang punya ukuran jauh lebih besar daripada yang umum dijual.

“Orang Arab kan badannya besar-besar,” ungkapnya sambil tersenyum.

Mouth-to-Mouth Marketing

Dalam fase awal kegiatan wirausahanya, Burhan menerapkan strategi mouth-to-mouth marketing, pemasaran dari mulut ke mulut.

“Tahun 2013 sosial media belum terlalu booming,” cerita Burhan.

“Setiap saya jumpa dengan teman di kampus pertanian, saya promosikan molen arab dengan slogannya, “panjang, besar, lembut, puas”. Pokoknya targetnya adalah saya mau semua mahasiswa-mahasiswi di pertanian tahu kalau saya jualan molen arab,” paparnya.

Tantangan rasa percaya diri pun kembali dihadapi Burhan. Ia mengaku, seminggu berjualan molen arab ia sudah sempat berfikir untuk menyerah. Namun, dengan perlahan menyingkirkan egonya, setelah tiga bulan merintis di Fakultas Pertanian, akhirnya kabar tentang molen arab mulai menyebar ke fakultas-fakultas lain di USU. Tersiar kabar kalau di Fakultas Pertanian ada penjual pisang molen yang enak dan cukup unik.

“Ketika kabar tentang produk saya sudah menyebar ke fakultas lain, ada beberapa teman mahasiswa yang ingin menjadi reseller dan menjualnya sendiri di kampusnya,” sambung pria berkacamata ini.

“Setelah tujuh bulan berjualan molen arab baru saya tidak minder, hehehe,” kata Burhan mengakui.

Lama kelamaan eksistensi molen arab pun menyebar lintas kampus, seperti Universitas Negeri Medan (UNIMED), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dan kampus-kampus lainnya.

piagam penghargaan wirausaha muda mandiri 2013 dari Bank Mandiri

Salah satu penghargaan wirausaha yang diterima Burhan dan Molen Arabnya

Ketenaran molen arab semakin melambung. Burhan kerap memenangi kompetisi-kompetisi wirausaha mulai tingkat provinsi hingga nasional. Ia pun sering diundang menjadi narasumber di seminar-seminar wirausaha, memberi motivasi kepada anak muda lainnya untuk mau berwirausaha.

From Hero to Zero

Pada akhir tahun 2014, Burhan telah memiliki 15 orang karyawan, sebuah mobil, dan aset lainnya bernilai ratusan juta. Namun layaknya roda pedati, kadang di atas dan kadang di bawah, bisnis Burhan pun mengalami hal demikian.

Proses pemilu, transisi pemerintahan, dan pergantian presiden pada akhir 2014 ternyata berefek pada penjualan molen arab. Menurut Burhan, pada saat itu, kondisi ekonomi masyarakat mengalami kelesuan. Akibatnya penjualan produknya mengalami penurunan drastis sejak Januari 2015 hingga pertengahan tahun.

“Akhirnya saya stop produksi selama tiga bulan, kondisi keuangan jadi minus. Untuk menutupi hutang saya jual aset dan mobil serta terpaksa merumahkan karyawan-karyawan saya. Saya terpuruk, saya merasa bisnis saya sudah gagal,” tuturnya.

Terus Belajar, Tinggalkan Riba, Jauhi Riya

Pasca kejatuhan bisnisnya, Burhan merasa malu dan sempat berfikir untuk tidak meneruskan melakukan wirausaha.

“Saya sempat berfikir apakah harus mundur dan jadi pekerja,” katanya.

quote_wirausaha_molen_arab

Burhan bercerita, masa-masa kejatuhan bisnisnya tersebut bertepatan dengan momen puasa Ramadan. Saat itu, kondisi keuangannya mengharuskan ia sahur dan berbuka puasa setiap hari di mesjid.

“Waktu itu, mau isi minyak (bensin untuk bahan bakar sepeda motor, red} saja saya pusing darimana uangnya. Saya sempat bingung karena setelah semua aset dijual saya masih berhutang Rp 150 juta. Akhirnya saya berserah diri kepada Allah SWT, saya beri’tikaf dan melakukan evaluasi-evaluasi sendiri,” paparnya.

“Saya taubat nasuha (bertobat dengan sungguh-sungguh), berkomitmen untuk lepas dari segala yang namanya riba, dan berdoa kepada Allah SWT agar semua hutang saya terlunasi,” lanjut Burhan.

Pasca Ramadan 2015, secercah harapan kembali muncul. Semangat berwirausaha kembali hinggap ke Burhan. Akhirnya ia merekrut dua orang eks karyawannya dan memulai semuanya dari awal, dari minus.

“Waktu itu saya bilang ke karyawan kalau saya sudah tidak punya apa-apa lagi, kalau mau ayo kita berjuang bersama. Alhamdulillah mereka mau bantu saya,” kenang Burhan.

Tiga bulan pasca memulai wirausaha kembali, alhamdulillah, Burhan pun berhasil melunasi semua hutang-hutangnya.

“Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya. Pasca tiga bulan usaha saya kembali ke tren positif. Saya pun komitmen untuk sama sekali meninggalkan riba,” kata Burhan.

Burhan Syaiful WIrausaha Molen Arab

Syaiful Burhan di depan gerai penjualan molen arab di Jalan Amaliun Gang Perdamaian No. 1

Setelah melewati evaluasi, laki-laki yang punya niatan untuk segera menikah ini pun akhirnya menemukan kekeliruannya. Pertama adalah ia tidak jeli membaca situasi pasar. Molen arab awalnya diperuntukkan bagi segmen menengah ke bawah yang kondisi ekonominya sangat terpukul ketika proses transisi pemerintahan 2014-2015.

“Masyarakat di segmen menengah ke bawah ketika untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi untuk jajan molen,” terangnya.

Akhirnya Burhan melakukan rebranding dan menyasar konsumen kelas menengah ke atas yang tidak begitu terpengaruh dengan lesunya ekonomi pada masa tersebut.

“Saya dulu malas belajar, setelah gagal dan jatuh, saya sadar kalau sudah jadi wirausahawan, pengusaha, kita harus banyak-banyak belajar, terus belajar,” akunya.

Selain itu Burhan mulai menghindari untuk mengisi materi di seminar-seminar tentang wirausaha, ataupun diwawancarai oleh media-media massa besar.

“Saya takut terjebak riya, saya sudah pernah alami itu, akibatnya saya jadi terlalu berbangga diri, merasa sudah jago, akhirnya malas belajar dan tidak peka dengan kondisi pasar dan sekitar saya,” jelasnya.

Rencana ke Depan

Burhan menjelaskan, saat ini setidaknya molen arab mampu menjual 1.000 potong molen per harinya. Dengan berbekal empat orang karyawan, molen arab sudah mulai bisa dipesan sejak pukul tiga pagi.

Kemasan Molen Arab

Kemasan molen arab yang cukup rapi

Metode pemasaran yang digunakan Burhan saat ini adalah memanfaatkan media sosial seperti instagram dan facebook. Sistem reseller tetap ada, tapi sistemnya diperkuat dan dibenahi serta terus dievaluasi.

Salah satu kebangkitan molen arab adalah pasca meninggalkan riba dan aktif di media sosial. Kebanyakan yang closing deal lewat instagram, contohnya ya kemarin itu, yang beli kok makin ramai. Waktu saya tanya ke yang beli taunya darimana, mereka bilang taunya dari instagram @makanhalalmedan, waktu saya cek, eh rupanya diposting, hehehe, makasih ya,” kata Burhan.

Ke depannya, Burhan berencana untuk membuat sebuah cafe di lokasi penjualannya yang sekarang, yang menyediakan beragam variasi molen arab.

“Pengennya sih pembeli bisa nongkrong di sini, makan beragam menu molen arab,” imbuhnya.

Burhan pun akhirnya berpesan kepada anak muda yang ingin memulai melakukan wirausaha agar langsung saja memulainya, jangan ragu-ragu.

“Kebanyakan dari kita kan terlalu banyak di ide, tanpa eksekusi. Nah, setelah usahanya jalan ya harus belajar banyak sana-sini karena ternyata berbisnis itu banyak ilmunya, jangan cepat berpuas diri, dan yang terpenting harus ikhtiar dan berserah diri ke Allah SWT,” tutup pria yang sedang berusaha menyelesaikan skripsinya ini.

pisang molen arab

Molen Arab rasa cokelat

Molen arab sendiri tersedia dengan beragam varian rasa, mulai yang original, cokelat, durian, keju, cokelat keju, kacang, cokelat kacang, dengan harga per potong mulai dari Rp 4.000. Molen arab maksimal tahan dua hari karena diproduksi tanpa pengawet dan pemanis buatan.

Biodata

Nama : Syaiful Burhan

Tempat / Tanggal Lahir : Pemalang, Jawa Tengah, 30 Maret 1993

Alamat Pribadi & Molen Arab : Jalan Amaliun Gang Perdamaian No. 1, Medan

Nomor kontak : 0811 600 771

Waktu berjualan : Pukul 03.00 – 21.00 WIB

Peta lokasi Molen Arab :