Wisata Aceh: Catatan Perjalanan @makanhalalmedan

ACEH. Makan Halal Medan (MHM) beberapa hari lalu melakukan perjalanan darat, mengeksplor wisata Aceh. Keiistimewaan dari provinsi ini adalah semua kulinernya diwajibkan halal, berdasarkan “Qanun Aceh No. 4/2016 tentang Sistem Produk Jaminan Halal”. Secara normal Medan – Banda Aceh bisa ditempuh selama 12 jam perjalanan darat. Namun, jika ingin santai, tidak ada salahnya juga menginap semalam dua malam di tengah-tengah, di Kota Lhokseumawe (enam jam dari Medan), yang punya banyak kuliner menarik dan pantai yang indah.

Tujuan akhir kami adalah Sabang, Pulau Weh. Untuk bisa mencapai pulau ini harus menyeberang dengan kapal lambat atau kapal cepat. Untuk itu kami menginap beberapa hari dulu di kota Banda Aceh.

Karena Aceh menerapkan syariat Islam, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, setiap maghrib semua aktivitas diwajibkan berhenti, baik itu SPBU, kedai makanan, toko kelontong, dan jenis usaha lainnya. Jadi pastikan ketika kalian (misalnya) ingin isi bensin bukan di jam sholat maghrib. Kedua, setiap sholat Jum’at semua aktivitas dan perniagaan juga diwajibkan berhenti.

Berikut adalah kota dan tempat makan yang kami (sempat) singgahi dalam perjalanan Aceh – Medan PP (pulang – pergi), di antara banyak rekomendasi yang kami terima (terimakasih semuanya, hehehe).

Pangkalan Brandan

Kota ini berjarak dua jam dari Medan. Di sini kami menikmati salah satu tempat makan yang jadi favorit banyak orang. “Sate Tongseng Yogya Lestari” namanya. Terletak di Jalan Lintas Sumatera Banda Aceh – Medan, di dekat kuburan Cina.

sate tongseng yogya lestari

Tongseng ayam di “Sate Tongseng Yogya Lestari”

Pemiliknya yang akrab dipanggil Mas Gito sudah berjualan sejak tahu 1980-an. Kami di sini mencoba tongseng kambing (Rp 30.000) dan ayamnya (Rp 20.000). Enyaaaaak!

Peta Lokasi :

Langsa

Wisata Aceh kami berhenti sejenak di Langsa, untuk makan siang. Setelah riset singkat sana-sini, kami memutuskan untuk makan di “Mitana Cafe” yang terkenal akan “Mie Wak Hasan”.

wisata aceh: Mie Wak Hasan

Begitu masuk Aceh, tidak ada lagi mie aceh, hahaha, yang ada mie plus nama warung atau nama penjualnya, contohnya ya “Mie Wak Hasan” ini. Kami pesan mie yang digoreng basah. Tambahan bunga kol bikin rasanya makin segar. Mantap! Lokasi di Jalan Ahmad Yani Langsa, yang juga Jalan Lintas Medan – Banda Aceh.

Peta lokasi :

Lhokseumawe

1. Coffee Abu Amad

Kata kenalan kami yang anak Lhokseumawe, di sini kopinya nikmat. Ya sudah, kami setuju saja dan langsung mencobanya. Di sini kami pesan sanger dan “kopi abu samad” (kopi robusta yang disaring lalu ditambahi gula pasir). Selain kopi di sini juga menjual minuman lain, hingga beragam panganan dan kue-kue, seperti timpan, risol, dan sebagainya.

“Kopi abu amad” dan “sanger” di Coffee Abu Amad

Peta Lokasi :

2. Waroeng Mie Banglades

Istilah “Banglades” pasti sudah gak asing lagi buat anak Medan yang suka makan ind*mie di sekitaran daerah Multatuli. Jadi istilah Banglades itu kalo di Medan kan ind*mie atau mie lain yang dimasak nyemek-nyemek, pake telur. Nah, itu awal mulanya di sini, di Lhokseumawe, Aceh, di “Waroeng Mie Banglades” Jalan Perdagangan yang sudah eksis sejak tahun 1977.

Wisata aceh: Waroeng Mie Banglades, Lhokseumawe

Tampak depan “Waroeng Mie Banglades”

Banglades itu sendiri bukan berarti nama negara, tapi singkatan dari (almarhum) “Bang Abdullah Delima Sigli”, pendiri warung, yang kini diteruskan oleh generasi ketiganya. Kabarnya setiap hari 70 Kg mie habis terjual, yang mie dan bumbunya mereka olah sendiri. Terus, air untuk menumis mie menggunakan kaldu sapi – pantas lha lemak.

Enyaaaaaak! Mie Banglades ini memang tjiamik, mienya nyemek-nyemek dengan jumlah potongan daging sapi yang ramai dan tekstur yang lembut. Harga seporsinya tadi Rp 22.000. Oiya, di sini ada menu nasi goreng + mie banglades (dobel karbohidrat), hahaha. Buka sekitar jam sembilan pagi, tutup menjelang maghrib, buka lagi habis maghrib, dan tutup total di atas jam sepuluh malam.

Mie Banglades

Peta Lokasi :

Sigli

Letaknya kira-kira dua jam sebelum kota Banda Aceh (kalau dari Medan). Di sini kami mencicipi “Mie Misbah”, juga di Jalan Lintas Medan – Banda Aceh. Di sini mie aceh yang digunakan warnanya pucat tidak terlalu terang. Ini artinya pewarna makanan yang digunakan cukup minim. Bagus! Untuk rasa sendiri kami menemukan rasa rempah Aceh yang ringan. Enyaaaak!

Mie Misbah, Sigli

Peta Lokasi :

Banda Aceh

Dalam wisata Aceh di ibukota provinsinya ini tentu saja kami lebih banyak ke tempat makan. Untuk tempat menginap, kami memilih hotel via aplikasi yang berlokasi tidak jauh dari Mesjid Raya Baiturrahman. Dalam wisata Aceh kali ini kami juga tidak banyak mengunjungi tempat bersejarah lainnya seperti Museum Tsunami, PLTD Apung, dan lainnya, karena sebelumnya sudah pernah kami datangi.

Di antara banyaknya rekomendasi kuliner dalam wisata Aceh kali ini, berikut yang sempat kami datangi:

1. Ayam Pramugari

Ini adalah kuliner Aceh yang paling banyak direkomendasiin via DM ke instagram kami @makanhalalmedan. Sejatinya yang dijual adalah “ayam tangkap”, ayam goreng dimasak gurih bareng daun kari dan daun pandan. Disebut “Ayam Pramugari” karena sering didatangi oleh pramugari sebab lokasinya dekat dengan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Nama gerainya sendiri adalah RM Adytia Jaya. Sepotong ayam harganya Rp 15.000. Selain ayam tangkap tersedia juga hati-rempelo ayam (Rp 50.000) seporsi, kari kambing, dan lainnya. Sebagai teman makan ada sambal cabe rawit dan bawang merah. Enyak!

Wisata Aceh: Kuliner Ayam Pramugari

Ayam Pramugari

Peta Lokasi :

2. Gunung Salju

Gunung Salju adalah nama salah satu gerai legendaris di Banda Aceh. Meski penjualnya beretnis Tionghoa namun status semua hidangannya (insya Allah) halal. Di sini andalannya adalah beragam es krim. Sedangkan untuk makanan yang wajib dicoba adalah “Mie Bistik Ayam” (dua puluhan ribu Rupiah), mie dicampur dengan potongan bistik ayam yang disajikan dengan kuah yang gurih. Sedap!

Mie Bistik Ayam

Peta Lokasi:

3. Mesjid Raya Baiturrahman

Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh kami masukkan ke dalam daftar dan jadi satu-satunya tujuan wisata non kuliner. Yang membuat kami terpana adalah parkirannya yang sudah tertata rapi, ada basement. Selanjutnya di halamannya juga disediakan payung raksasa, mirip dengan Mesjid Nabawi di Madinah. Masya Allah, keren!

Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Peta Lokasi:

4. Mie Razali

Salah satu acuan kalau liburan ke Banda Aceh. Mie Razali mengedepankan kampanye kalau mie yang mereka gunakan adalah mie yang sehat, tanpa pengawet dan pewarna berlebihan. Mie kepiting di sini memang lezat. Tapi kali ini kami menikmati mie kuah biasa saja (Rp 12.000), karena makannya lebih tidak ribet. Hahaha. Mienya lembut, teksturnya pas, rempah khas Acehnya nikmat. Mangat that!

Mie kuah di Mie Razali

Peta Lokasi:

5. Mutiara Cafe

Menu andalan di sini adalah mie kocok. Mie kuning disiram kuah kaldu yang lembut, plus cacahan daging sapi yang gurih. Selain mie kocok (Rp 15.000), bakso di sini juga cukup banyak yang pesan. Lokasinya juga strategis, di seberang Mesjid Baiturrahman Banda Aceh.

Mie Kocok

Peta Lokasi :

6. Solong Coffee

Untuk wisata Aceh kali ini, kedai kopi legendaris khas Banda Aceh yang paling banyak direkomendasikan ke kami ya Solong Coffee di Ulee Kareng. Tua muda, laki-laki perempuan, semua berbaur di kedai kopi ini. Kopi saring dan sangernya jadi andalan, plus beragam kue-kue khas Aceh. Mereka juga menyediakan kopi kemasan (baik bubuk atau biji yang sudah disangrai).

Solong Coffee

Peta Lokasi :

Sabang

Tujuan akhir wisata Aceh kami adalah Sabang yang terletak di Pulau Weh, pulau terbarat di Indonesia. Pulau ini tentu saja memiliki pesona keindahan pantai yang luar biasa. Untuk bisa ke Sabang, kita bisa melakukan penyeberangan dengan kapal cepat (yang harganya lebih mahal) dan dengan kapal lambat, kira-kira 90 menit. Dari Banda Aceh, kami langsung ke Pelabuhan Uleu Lheu. Karena menggunakan mobil, kami tentu saja harus menggunakan kapal lambat yang besar. Biaya penyeberangan untuk satu mobil sekitara Rp 200.000-an, dan per orang dikenakan tarif Rp 25.000.

Untuk jadwal penyeberangan sendiri, kini tiap harinya ada tiga kali kapal lambat ke dan dari Sabang, yakni pukul 08.00 WIB, 10.30 WIB, dan 14.30 WIB.

Iboih, Sabang

Di Sabang kami menginap di penginapan di daerah Pantai Sumur Tiga. Buat yang suka snorkeling mungkin bisa memilih untuk menginap di daerah pantai Iboih. Tugu 0 kilometer Indonesia adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi. Dari sini kita bisa melihat laut lepas yang mengelilingi Pulau Weh. Untuk oleh-oleh khas Sabang, yang paling terkenal adalah “Kue Kacang AG”. Uniknya kue kacang ini bisa dengan mudah didapatkan, baik di Sabang ataupun di Banda Aceh sendiri.

Masyarakat Sabang punya kebiasaan unik. Mayoritas tempat makan dan toko-toko di sini tutup ketika siang datang, sekitar jam 12.00 – 13.30 WIB, dan buka lagi di sore hari menjelang maghrib atau justru setelah Maghrib.

1. Kedai Mie Sedap

Legendaris adalah deskripsi dari kedai ini. Menu andalannya adalah mie sedap. Ada dua jenis mie di sini, mie goreng dan mie kuah. Ciri khasnya adalah penggunaan topping ikan yang nikmat. Istimewanya mienya dibuat sendiri. Favorit kami di sini adalah mie kuah, karena dilengkapi siraman kuah yang ringan nan gurih. Harganya belasan ribu Rupuah. Enyaaaaaaaaaaaak! Lokasinya di Jalan Perdagangan, Sabang. Buka pagi, tutup siang, dan buka lagi setelah sholat Maghrib.

Mie goreng di Kedai Mie Sedap

Peta Lokasi :

2. Kedai Pulau Baru

Kedai ini juga legendaris. Lokasinya di seberang Kedai Mie Sedap. Bedanya di sini tidak ada menyediakan mie goreng, hanya mie kuah saja yang bisa dilengkapi dengan telur rebus. Topping ikan juga tersedia di sini. Namun untuk rasa topping ikan, kami lebih suka topping ikan yang di Mie Sedap. Buka pagi, tutup siang, dan buka lagi sekitar jam lima sore.

Mie Kocok di Kedai Pulau Baru

Peta Lokasi :