Pikoh Rumah Blepots: Jadi Pengusaha Jangan Pernah Malu

MEDAN. Rafiqoh Purnamasari atau yang akrab dipanggil Pikoh adalah sosok perempuan pengusaha yang sukses mengembangkan dan mempertahankan usaha kulinernya selama tujuh tahun lebih. Melalui brand Rumah Blepots” ia berhasil mematahkan mitos dan pakem pemasaran. Simak wawancara lengkap kami Makan Halal Medan (MHM) dengan Pikoh (P), anak keempat dari lima bersaudara ini.

 

MHM : “Assalamu’alaikum Mbak. Rumah Blepots mulai beroperasi kapan ya ?”

P : “Wa’alaikumsalam, kira-kira November 2009”.

pikoh pengusaha rumah blepots medan

 

MHM : “Boleh cerita sejarah, latar belakangnya berdirinya Rumah Blepots?”

P : “Awalnya karena terdesak masalah ekonomi. Saat itu anakku sudah satu, dan aku lagi ada masalah dengan (mantan) suami”.

 

MHM : “Jadi kenapa saat itu memilih untuk berjualan ?”

P : “Aku gak punya cita-cita, pernah pengen jadi Polwan (polisi wanita, red) tapi karena insiden kecil yang langsung aku lihat sendiri akhirnya jadi gak mau, malas. Nah, dari kecil aku memang suka berjualan, apa saja aku jual, mulai dari pin, pensil, dan lainnya, belinya di Medan dan jualnya di Aceh. Aku besar lahir dan besar di Aceh, sampai SMA masih di Aceh. Sewaktu SMA, aku juga udah punya bisnis kecil-kecilan jual black forest, cookies. Nah, ketika tamat SMA, ayah nyuruh aku jadi bidan atau belajar bahasa asing, tapi aku gak mau, aku hobi masak. Itulah kenapa aku pilih kuliah di D3 Perhotelan Akademi Pariwisata karena di sana memang diajari memasak, sampai potongan-potongan makanan aja ada detilnya dan nama-namanya”.

 

“Jadi bisa dibilang kalau tentang berjualan dan masak memasak ini memang sudah ada ketertarikan dari awal. Ini didukung dengan ibuku yang punya usaha catering, jadi kalo soal masak-memasak dalam porsi banyak aku udah terbiasa”.

“Aku tamat dari Akpar (Akademi Pariwisata, red) September 2006, lalu nikah pada Januari 2007 kemudian pindah ke Pekanbaru. Di sana juga awalnya jualan burger juga yang konsepnya kayak gini, dan sampai sekarang masih ada walau dengan brand yang berbeda. Tapi ya itu tadi, karena bermasalah dengan (mantan suami) aku balik ke Medan, dan mulai berfikir untuk buka usaha, jadi pengusaha di Medan”.

 

MHM :”Kenapa memilih burger, bukan jenis hidangan yang lain?”

P : “Aku sudah pernah berjualan beragam makanan, mulai dari gorengan, soto, lontong, catering di medan juga udah pernah. Kenapa akhirnya milih burger karena burger ini usaha setengah jadi, semua bahannya bisa didinginkan, dimasukkan ke freezer, kecuali mayonaise, saus blepots. Begitu ada pelanggan, langsung diambil dari freezer, dan siap untuk diolah. Kalau bahan baku diletakkan di dalam freezer kan tahan lama, ini untuk mengurangi kerugian juga. Kalau jualan soto atau lontong kan kalau gak habis sayur-sayur dan lainnya harus dibuang, kalau enggak ya basi”.

 

MHM : “Modal usahanya berapa ? Terus lokasi Rumah Blepots ini kan rumah sendiri kan yang dijadikan tempat usaha ?”

P : “Modal awal dibantu ayah dan ibu. Iya, aku punya prinsip kalau mau jadi pengusaha, buka usaha, kalau bisa, sebisa mungkin tidak minjam dari bank. Itulah kenapa waktu itu aku pikir untuk memanfaatkan rumah ayahku aja. Nah, modal pinjaman dari orang tua itulah yang aku gunakan untuk mempercantik tempat usahaku, walau waktu itu belum sebesar seperti sekarang”.

rumah blepots milik pengusaha pikoh

Salah satu sudut di Rumah Blepots

 

MHM : “Terus, saat di awal-awal berdirinya, bagaimana caranya untuk mempromosikan Rumah Blepots ?”

P : “Awalnya ya aku posting aja di facebook pribadiku, datanglah kawan-kawanku. Pelanggan waktu itu ya masih kawan-kawan sendiri aja. Nah, pelanggan pertama yang bukan kawan-kawanku itu empat orang anak SMA, sampai sekarang pun aku masih ingat namanya, Rozi, Fahri Mulianysah, Endi, dan Putra. Selanjutnya, mereka berempat ini sering bawa kawan satu kelasnya kemari”.

“Jadi alhamdulillah, promosi kami itu dari mulut ke mulut. Menurutku, lebih efektif kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut, daripada beriklan di mana pun”.

 

MHM : “Apa tantangan-tantangan di awal berdirinya Rumah Blepots ?”

P : “Awalnya aku pernah dibilang gila sama tetangga di sini. Menurut mereka usaha yang bakal aku usahain gak akan bisa berhasil karena lokasiya di dalam gang, gangnya pun gang ecek-ecek, di pinggir kota Medan pula. Dulu awalnya gang ini gelap kali, dari ujung ke ujung gelap, dan rumah yang paling ditakuti dulu ya rumahku ini sama rumah di depan kami karena banyak pohon rimbun, tapi aku aja yang tinggal di sini gak pernah mengalami hal-hal yang aneh.

“Karena letaknya di dalam gang, di pinggir kota inilah banyak yang meragukan, tapi insya Allah tekadku tetap kuat, berdoa berusaha, berdoa berusaha, harus yakin ke diri sendiri”.

“Jadi menurutku lokasi usaha itu tidak begitu penting, tidak harus di ruko, di tengah kota, atau di pusat keramaian. Apalagi zaman sekarang makin canggih, peta online gampang diakses. Walau lokasinya di dalam gang-gang kecil, kalau makanannya enak, kualitas dijaga, dan rasanya konsisten, pelanggan pasti datang”.

“Jujur, sekarang masih banyak pelanggan yang gak tau lokasi persis dari Rumah Blepots. Untungnya aku di sini banyak terbantu dari layanan antar makanan secara online seperti gojek”.

 

MHM : “Ciri khas dari Rumah Blepots ini kan burgernya yang disiram saus blepots yang berupa kuah spaghetti, dan setau kami, burger di Rumah Blepots inilah pionir di kota Medan untuk jenis burger seperti itu. Nah, ini ilhamnya, resepnya dapat dari mana ?”

burger blepots medan

Burger blepots

P : “Aku suka makan dan idealis kalau soal makanan, apa aku yang aku suka itulah yang aku jual. Aku pernah beli burger pake spaghetti dan ketika aku campur, rasanya enak, dari situlah mulai muncul idenya saus blepots. Kalau untuk patty (daging di dalam burger, red), aku banyak terbantu dari kuliah dulu di Akpar. Patty kami standar resep hotel, benar-benar menggunakan daging sapi asli. Daging sapinya mentah dicampur dengan bumbu, lalu dipanggang. Untuk saus blepots dan patty memang dibuat menyesuaikan dengan lidah orang Medan yang setelah aku perhatikan senangnya yang pedas-manis. Kalau patty, resepnya berganti terus sejak berdiri, dan di tahun 2012 baru dapat resep pakemnya”.

 

MHM : “Tahun ke berapa balik modal?”

P : “Tahun ke dua mulai ramai, balik modal tahun ke-3, balikin modal ke ayah. Tapi itu pun sejak tahun ke dua aku udah sedikit menikmati keringatku sendiri”.

 

MHM : “Kalau gak salah dulu namanya bukan Rumah Blepots kan, tapi Rumah Burger, kenapa diganti ?”

P : “Nama Rumah Burger itu udah banyak yang pakai, jadi gak bisa aku patenkan. Makanya ganti nama jadi Rumah Blepots, itu pun ada rencana lagi berubah jadi Rumah Burger Blepots”.

Pikoh pengusaha rumah blepots

Mengerjakan burger pesanan sebesar 50 cm untuk ulang tahun. Kredit: Instagram @rumahblepots

 

MHM : “Sekarang berapa kira-kira omset per hari, dan berapa jumlah karyawannnya ?”

P : “Kalau karyawan sekarang ada 24 orang. Kalau omset kira-kira sehari itu kalau dihitung dari roti burger yang terjual, kira-kira 500 – 600 roti dengan harga menu paling murah Rp 20.000 dan paling mahal Rp 81.000. Kami dalam seminggu cuma libur Hari Kamis, puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri libur 40 hari, Hari Raya Idul Adha libur satu hari. Jadi silahkan dihitung sendiri ya omsetnya, segitu lha kira-kira. Hehehe”.

 

MHM : “Kayaknya Rumah Blepots sekarang udah jadi lebih luas ya?”

P : “Alhamdulillah, pembeli makin ramai, konsekuensinya yang parkir juga ikut ramai. Biar lalu lintas di gang tidak terganggu, kami beli rumah di sebelah, kami ratakan dengan tanah untuk kami jadikan lahan parkir. Selain itu memang Rumah Blepots sudah diperbesar dari yang awalnya cuma hanya beberapa meja”.

 

MHM : “Di tengah semakin menjamurnya bisnis kuliner di Medan, bagaimana cara dan strategi agar pembeli tetap ramai yang datang ?”

P : “Kualitas rasa harus dijaga, jangan takut harga makin mahal. Gak mungkin kan harga tetap, tapi bahan-bahan baku terus naik, nanti pasti rasa dan porsi yang dikorbanin. Realistis saja. Kalau ada yang nanya kenapa harga menu di sini naik aku bilang kayak gini, “Dek, minyak (bensin) udah berapa kali naik rupanya? Harga cabe udah berapa rupanya?” Dan alhamdulillah pelanggan mengerti”.

“Kemudian, jangan pernah sombong sama pembeli, jalin kedekatan dengan pelanggan. Aku sangking dekatnya sama pelanggan ibarat udah punya banyak adik dimana-mana”.

 

MHM : “Ada saran buat yang ingin menjadi pengusaha, atau setidaknya mulai berdagang, buka usaha ?”

P : “Jadi pengusaha jangan pernah malu. Jangan malu berjualan. Kalau ditekuni insya Allah ada aja hasilnya”.

“Selanjutnya kalo jadi pengusaha jangan mau cepat sukses, semua ada prosesnya. Aku masih ingat di tahun pertama buka Rumah Blepots, aku kokinya, aku pelayannya, aku yang cuci piringnya, aku juga yang jaga parkiran dan nunggu pelanggan datang. Jangan mau cepat jadi bos. Dulu aku pagi-pagi ke pajak (pasar, red) cuma pakai baju daster demi belanja bahan-bahan segar untuk jualan”.

“Kalau mau jadi pengusaha jangan latah buka usaha yang sedang laku, yang sedang laris. Kita harus punya jati diri. Yakinlah kalau serius pasti berhasil, berusaha berdoa, berusaha berdoa”.

Antrian pembeli di Rumah Blepots. Kredit: Instagram @rumahblepots

“Aku juga gak pernah mengkotak-kotakkan pembeli. Kalau orang-orang melihat usahaku ini, burger, pasti semua berfikir kalau target pasarnya anak muda kan. Tapi aku enggak, sejak awal aku udah mikir, gimana caranya burgerku ini bisa dinikmati semua kalangan umur, tua muda. Alhamdulillah suatu malam, ada tiga orang nenek-nenek yang baru pulang wirit mampir, dan makan burger di sini. Nenek-nenek semua ya, gak sama cucu atau anaknya, artinya kan mereka memang tertarik dengan burgerku, di situ lha aku senang kali, alhamdulillah salah satu keinginanku tercapai, burger untuk semua kalangan”.

 

MHM : “Apa rencana ke depannya ?”

P : “Aku pengen punya food truck, soalnya ke depan aku perkirakan usaha kuliner yang ramai itu yang lebih mobile yang bisa kemana aja. Kemarin aku udah buka cabang di Yogyakarta, tapi untuk sementara tutup dulu, mau diperbaharui konsepnya”.

 

MHM : “Terimakasih Kak atas waktunya”

P : “Sama-sama ya”.

 

Biodata
Nama lengkap : Rafiqoh Purnamasari
Panggilan : Pikoh
Pendidikan terakhir : D3 Perhotelan Akademi Pariwisata Medan
Status : Cerai, 2 anak
Agama : Islam
Tempat/Tanggal Lahir : Bathupat, Aceh, 15 Maret 1985
Alamat : Jalan Medan Area Selatan Gang Puri No.8/909 A
Instagram : @rumahblepots
Line : ppiikkoohh
No. Telepon : 0813 7569 3033
Peta lokasi :